Apakah Sob Tipe Traveler Menyebalkan? Cek Ciri-Cirinya Disini!

#CeritaIcak #181HariKelilingAsia

Saat melakukan perjalanan, sebenarnya sob masuk tipe traveler seperti apa sih?

Jujur saja, saya sulit untuk menjawab pertanyaan seperti di atas. Saya menggangap diri saya sebagai traveler yang biasa saja, gak kurang gak lebih, “sedang-sedang saja” lah bahasa populernya. Seperti judul lagu ya :))

Selama saya melakukan banyak perjalanan, saya sering kali menemukan contoh nyata traveler yang enggak banget alias menyebalkan. Seperti yang saya temukan saat perjalanan keliling 11 negara Asia kemarin.

Hargailah warga lokal, jangan menjadi traveler yang menyebalkan!

Saat itu saya bertemu dengan seorang ibu berkebangsaan Finlandia (beliau sebelumnya berkebangsaan Taiwan yang bekerja sebagai pengajar bahasa Inggris di Spanyol, unik kan?). Ibu ini sangatlah unik, bahkan terlalu unik. Salah satu keunikannya ialah saat akan membeli makanan. Beliau gemar mencicipi semua makanan yang dijual. Ibu ini sering berkata tidak enak bila tidak menyukai makanannya lalu pindah ke makanan sebelahnya dan berkata tidak enak lagi hingga terus mencicip semua makanan sampai kenyang dan pada akhirnya tidak membeli satu makanan pun.

Masih ada satu kasus unik tentang Ibu ini. Suatu saat di dalam bis, ibu ini berpura-pura sakit perut agar mendapatkan tempat duduk dan menyingkirkan seorang nenek renta yang sebelumnya duduk di kursi tersebut. Nggak banget kan?

Namun jangan salah Sob... hal ini tidak ada hubungan dengan kebangsaan. Terlepas dari perilakunya yang menjengkelkan, ternyata ibu ini orangnya sangat baik sekali. Berkat dia, saya bisa couchsurfing di tempat kenalannya di Krygyzstan. Berdasarkan obrolan dengan host couchsurfer, saya tahu jika ibu ini membantu membersihkan rumah si tuan rumah ini. Ibu ini bahkan mengepel seluruh lantai dapur dan ruang makan walau sudah dicegah oleh si tuan rumah agar tidak perlu repot-repot membersihkan rumahnya. Namun si tuan rumah ini gagal mencegahnya. Ibu yang baik ini secara tidak sengaja berhasil membuat tuan rumah malu akan kebersihannya (yang sama sekali tidak kotor). Bahkan si tuan rumah harus membeli spons cuci piring baru karena alih-alih menggunakan lap pel, Ibu ini mengepel menggunakan spons cuci piring (dan tanpa merasa berdosa menaruh kembali spons itu ke tempat cuci piring. Sementar dengan diam-diam, si tuan rumah membuang spons kotor tersebut).

Saku Rahasia itu artinya RAHASIA...

Masih dengan cerita si ibu berkebangsaan Finlandia. Suatu waktu beliau mendapatkan wangsit untuk membeli makanan. Setoples madu yang manis. Rasa manis madu ini mampu meluluhkan hati si ibu untuk membelinya. Saat ia  hendak membayar, keunikan lainnya mulai terjadi. Saat itu ibu ini tidak memiliki uang som (mata uang Krygyzstan) di tangan atau di dompetnya. Tapi ia memiliki puluhan lembar uang som di saku rahasianya. Ya! Di saku rahasia yang biasanya menjadi tempat rahasia para traveler. Saku rahasia merupakan tempat uang cadangan untuk keadaan darurat. Mengingat namanya, “saku rahasia” sudah seharusnya tetap terjaga kerahasiaannya. Namun ibu ini membocorkan rahasianya sendiri. Ia membuka saku rahasia dan mengambil selembar dari belasan lembar uang som yang ia punya.

Satu hal yang jadi masalah di sini adalah letak posisi saku rahasia si ibu ini. Saku rahasianya terletak di bagian atas depan celana dalamnya. Saat itu Ibu ini sedang menggunakan rok. Saat akan membayar, ia mengangkat bagian depan roknya, membuat semua orang tertegun karena kaget melihat pemandangan yang tidak indah itu. Ia mengambil selembar uang som lalu memberikannya pada penjual, namun sang penjual enggan menerimanya (saya paham mengapa penjual itu menolaknya. Saya pun akan menolaknya bila ada di posisi si penjual).

Buah-buahan segar yang dicoba oleh si ibu. Tampak kanan atas adalah kaki dan rok yang digunakan si ibu
Buah-buahan segar yang dicoba oleh si ibu. Tampak kanan atas adalah kaki dan rok yang digunakan si ibu

Tentu saja setelah rahasianya ketahuan. Ibu ini bisa menjadi sasaran empuk kejahatan (walau mungkin para penjahat pun enggan merampok uang dari saku rahasianya).

Kalau mau memaki, pergunakan bahasa ibumu. Kecuali ibumu berbahasa Inggris, kalau begitu janganlah memaki!

Melakukan perjalanan memang gak selamanya menyenangkan Sob. Terkadang kita menemukan kejadian yang menyebalkan. Bahkan sering kita menjadi bagian dari kejadian menyebalkan itu. Seperti peribahasa yang berbunyi “sudah jatuh tertimpa tangga” dan malah terkadang besinya terbuat dari besi. Apabila badan sudah terasa letih dan kejadian menyebalkan menimpa kita, memaki adalah salah satu cara untuk menghilangkan stress.

Seperti kawan Polandia saya ini. Siang itu dia tertipu membayar makanan yang tidak enak dan sangat mahal. Saat kami naik bis malam ke kota Tabriz, kakinya dilipat karena tidak muat. Ditambah dengan sopir yang ugal-ugalan dan mengomel dalam bahasa Farsi.

Saya sendiri berusaha tenang dan mencoba untuk tidur. Sayangnya saya tidak bisa tidur karena ada seseorang yang menendang-nendang dengan tidak sabar dan berkata “fu*ck, fu*ck, fu*ck!”. Saya sangat merasa tidak nyaman dan merasa penumpang lainnya pun merasa terganggu.

Siapakah orang yang memaki-maki itu? Ternyata orang itu ialah teman Polandia saya. Dia menjadi pusat perhatian para penumpang lokal dan membuat nama traveler menjadi buruk. Saat bis berhenti di tempat peristirahatan, saya memberi tahu dia jika yang dia lakukan bukanlah hal yang baik. Setiap orang yang pernah menonton film berbahas inggris pasti tahu apa itu “fu*k”. Ia pun akhirnya menyadari kesalahannya.

Setelah bis kami berjalan kembali, keadaan menjadi lebih tenang. Akhirnya saya bisa tertidur pulas, begitu pun dengan penumpang lainnya. Sementara kawan Polandia saya ini berusaha mengurangi kekesalannya, mengubah nada suaranya lebih ceria walau tetap memaki-maki dalam bahasa ibunya.

Written & documented by: Icak (@darmastyo)
Edited by: @hanie_20

Leave a comment

Please note: comments must be approved before they are published.