BAMB! BUKAN AIR MINUM BIASA!

Shui(水) atau ob atau su atau water adalah satu hal yang nggak akan mungkin lepas dari keseharian kita. Iyap tepat sekali Sob, semua kata diatas adalah air dalam berbagai bahasa; Bahasa Tionghoa, Farsi, Turki dan Inggris. Nah inilah yang akan saya ceritakan kali ini, tentang air minum lebih tepatnya.

Manusia dewasa normal konon harus meminum air sebanyak 2 liter tiap harinya. Nah ini adalah angka minimal yang harus kita kejar supaya tubuh kita tidak kekurangan cairan. Sebagai informasi, rata-rata air minum kemasan besar di Indonesia berukuran 1.5 liter, kemasan sedang berukuran 0.6 liter, sementara kemasan kecil biasanya 0,33 liter. Jadi untuk memenuhi asupan cairan, untuk mudahnya kita perlu satu air minum botolan kemasan besar dan satu air minum botolan kemasan sedang.

Kondisi kurangnya cairan dalam tubuh dinamakan dehidrasi. Tanda-tanda akan dehidrasi adalah rasa haus, pening, keluar banyak cairan, ingin buang air kecil dan air kecilnya berwarna kuning pekat. Apa jadinya kalau kita dehidrasi? Fungsi-fungsi tubuh kita akan terganggu Sob. Dimulai dari kurangnya konsentrasi seperti iklan-iklan air mineral di televisi, sampai kerusakan ginjal bahakan sampai kematian.  Konon batas ketahanan manusia untuk tidak minum adalah tiga hari, lalu setelah itu... yah, tinggal dimandikan dan dikuburkan hehe…

Saya sendiri beberapa tahun yang lalu pernah beberapa kali merasakan gejala dehidrasi ringan yang menurut saya cukup menyebalkan parah. Saat itu matahari sedang terik, sementara saya melakukan aktifitas fisik tanpa minum air barang setitik. Tanda pertama adalah pening dan haus yang saya hiraukan saja. Lalu muncul keinginan kuat untuk buang air kecil. Sayangnya saat itu tak ada setetes air kencing yang bisa keluar. Hanya saja ada rasa sakit luar biasa disana. Pengalaman dehidrasi begini sangatlah menyebalkan. Ada dua hal yang saya sangat benci dari kondisi ini: satu, rasa sakit yang sangat. Dua, kalau hal ini terjadi, yang harus saya lakukan adalah minum air dalam jumlah banyak (bisa 3 botol air 1.5 liter) dalam waktu dekat supaya saya bisa buang air kecil. Bayangkan dari awalnya rasa kehausan tiba-tiba jadi kembung air seketika! Untungnya setelah kejadian-kejadian itu, rasanya tubuh saya masih baik-baik saja sehingga masih mampu berjalan-jalan kemana-mana.

Pengalaman menarik terkait air minum juga saya alami dalam perjalanan 181 hari saya. Salah satunya adalah pengalaman minum air bergas di Kyrgyzstan. Pengalaman lainnya? Oh masih banyak! Salah satunya adalah menggunakan mesin dispenser air di dua negara ASEAN (Malaysia dan Thailand). Untuk menggunakan mesin ini, kita harus memiliki wadah untuk kita minum. Taruh wadah dibawah keran, lalu masukkan koin ke slot koin. Voila! Air akan mengalir sesuai nominal koin yang kita masukkan. Oiya mesin dispenser ini bisa ditemukan dimana-mana lho! Dipinggir jalan, di belokan, di bawah jembatan. Mudah sekali untuk ditemukan. Harga air isi ulang ini juga sangat murah dibandingkan dengan membeli air mineral di toko. Harganya sekitar 0.1 RM di Malaysia dan 1 Bath per liter di Thailand.

Oiya, rasanya tak ada mesin seperti ini di Singapura. Disana, kita bisa minum air langsung dari keran. Sudah bersih dan higienis! Suer! Beneran, saya kagak boong!

[caption id="attachment_4615" align="aligncenter" width="480"]Dispenser air minum di Khaosan, Bangkok Dispenser air minum di Khaosan, Bangkok[/caption]   Lain lagi dengan India. Di negara ini tak ada mesin dispenser air seperti diatas dan kita harus berhati-hati membeli air minum kemasan. Berdasarkan informasi dari pejalan lain, saya disarankan untuk selalu minum air kemasan. Konon kandungan bakteri pada air minum selain air minum kemasan mampu membuat manusia mencret-mencret 4 hari 4 malam (kalau minum air kemasan, yah mencretnya hanya sekitar 1 hari 1 malam laah. itu pun bukan karena airnya. Tapi karena makanan pingir jalan di India hahaha).

Membeli air minum kemasan di India harus selalu di toko yang terpercaya dan tampak bonafit. Jangan beli air minum kemasan di sembarang tempat! Konon ada oknum warga setempat yang mengambil botol air minum kemasan bekas pakai lalu mengisinya dengan air-putih-entah-darimana-atau-sebersih-apa yang higienitasnya diragukan. Lalu menutup kembali dengan tutup botol baru yang masih tersegel! Segel baru yang tak beda dengan segel aslinya! Lalu mereka akan menjual air minum kw-9 ini pada manusia-manusia tak berdosa yang akan mengalami kesialan pada perutnya!

Pengalaman lain yang menarik tentang air adalah saat saya berada di negeri Tiongkok. Kala itu saya berada disatu kota kecil Jinchang, provinsi Gansu. Kota ini terletak di pinggir padang pasir Badain Jaran. Cuaca panas dan kering padang pasir membuat saya mudah merasa haus. Kehausan, saya lalu bergegas ke sebuah toko kelontong kecil untuk membeli air minum.

Sedikit tertular oleh sifat ingin berhemat yang konon dimiliki orang Tionghoa, saya lalu memilih air minum dengan kemasan terbesar, 1 botol besar berukuran 4 liter. Tentu saja seharusnya harga air kemasan 4 liter lebih murah daripada membeli 4 buah air kemasan 1 liter.  Namun hal itu tak terjadi. Harga air ini malah lebih mahal daripada air minum lainnya yang pernah saya beli, tapi tak terlalu mahal sampai membuat enggan membelinya. Karena enggan bertanya masalah harga (dan saya juga gak bisa bahasanya) saya lalu membayar air minum tadi dan membawanya ke kamar hotel.

Di kota Jinchiang, mungkin saat itu saya adalah satu-satunya wisatawan asing di sana. Saya terpaksa menginap di hotel yang agak lumayan karena tak ada hostel disana. Setelah sampai di kamar, sendirian dan penuh rasa kehausan, saya lalu bergegas membuka tutup dari si botol air minum kemasan 4 liter. Tiba-tiba semerbak tajam wangi buah memenuhi ruangan. Darimanakah bau ini berasal? Ternyata wangi buah ini dari botol kemasan 4 liter tadi. Eh? Apakah ini air dengan rasa buah, sehingga harganya mahal?

Bukan, ternyara ini adalah arak!

Sejenis arak murahan dengan kemasan botol plastik ukuran 4 liter. Dam*! @#%! Jadi saya baru saja membeli 4 liter arak untuk saya sendiri. Satu hal yang sangat tak berguna karena saya tak mungkin bisa menghabiskan 4 liter minuman beralkohol sendirian.  Tanpa mabuk berat. Tanpa bisa dibagi untuk kenalan lain. Apalagi saya bukan seorang yang minum alkohol! Padahal saya kehausan!

Singkat cerita pada akhirnya saya harus kembali keluar, berjalan dibawah terik matahari padang pasir dan membeli air minum kemasan 4 liter dengan harga sepersepuluh sebelumnya. Sial!

[caption id="attachment_4616" align="aligncenter" width="478"]Dispenser lokal di satu lorong di Palembang, gratis! Asal gak pake botol! Dispenser lokal di satu lorong di Palembang, gratis! Asal gak pake botol![/caption]  
Written & documented by: Icak (@darmastyo)
Edited by: @hanie_20

Leave a comment

Please note: comments must be approved before they are published.