Satu malam menjelang Lebaran di Kunming, Tiongkok

26 Juli 2014  jam 23.00 waktu Tiongkok, perut saya berbunyi kelaparan. Sore tadi saya  hanya bisa berbuka dengan air putih saja. Saat itu bis yang saya naiki sedang memasuki terminal selatan kota Kunming.  Hari ini adalah hari minus-tiga sebelum lebaran, walau tanpa ada tanda-tanda ketupat, opor atau gulai. Semakin mendekati lebaran, semakin sering saya membayangkan makanan enak berbumbu kacang, santan dan ketupat. Jelas bukan khayalan yang cocok dipikirkan saat perut kelaparan.

Sangat tidak cocok, dan kebetulan saya punya masalah lebih besar malam ini: Saya tak tahu akan tidur dimana malam ini. Saya mulai berpikir untuk mencari pojokan terminal untuk tidur, lalu bis mulai memasuki terminal yang tampaknya tak memiliki pojokan aman. Selain itu banyak sekali sosok manusia disana. Mereka tampak seperti manusia-manusia calo taxi, penginapan, atau semacam ojek. Bukan pemandangan yang menyenangkan saat tiba di kota besar asing di tengah malam.

Bis lalu berhenti dan saya berjalan keluar bis bergaya sok cool, tidak mempedulikan manusia-manusia calo yang ada. Sampai ada seseorang memberikan kartu nama penginapannya, dan berbicara sangat kencang.  Ada satu hal lain yang saya risaukan sebenarnya, saya tak bisa berbahasa cina. Sedikitpun tak bisa. Dengan bahasa isyarat dan gestur badan, saya bertanya berapa harga satu malamnya. Ia lalu mnjawab dengan menulis kanji imajinatif di telapak tangannya.

Apa!?? Ada apa dengan bahasa isyarat jari untuk menunjukkan angka? Empat jari dan satu kepalan untuk menunjukkan angka 40. Lima jari untuk angka 5, dan semacamnya! Di saat itu lah saya baru tahu kalau orang tiongkok tak menggunakan bahasa isyarat universal seperti negara lainnya di dunia.  Masalah bahasa selesai  saat saya mengeluarkan notes kecil dan mebiarkan bapak calo menuliskan harga permalamnya, 80 Renmibi (RMB), sekitar 160-180ribu rupiah untuk saat itu. Sedikit diatas anggaran, tetapi jauh lebih baik daripada tidur sendirian di terminal negara asing dikelilingi manusia-manusia calo.

[caption id="attachment_3349" align="aligncenter" width="607"]ed_IMG_7245 Salah satu Kartu nama yang diberikan oleh para manusia calo, sampai sekarang saya nggak tahu apa yang dimaksud dalam tulisannya[/caption]

Saya lalu mengangguk, ia lalu mengajak saya ke  semacam mobil MPV berwara hitam, berkaca film gelap. Ia lalu mengisi kursi supir sementara saya duduk di kursi tengah, dan tas saya masuk ke bagasi belakang. Dengan bahasa isyarat saya bertanya apakah hotelnya jauh, bapak ini lalu menunjukkan dengan gesture kalau hotelnya dekat. Di luar terminal mobil itu tiba-tiba berhenti dan satu orang tiongkok lain naik mobil ini lalu duduk di sebelah saya dan berbicara cepat dengan pak supir.

Perasaan saya semakin tak enak dan mulai berpikir gimana cara membela diri kalau ada apa-apa. Mobil kembali berjalan- Tak jauh dari sana, di sebuah perempatan, penumpang sebelah saya tadi lalu turun, sambil sepertinya berterimakasih pada si supir – atau memberi info dimana kawan-kawannya berkumpul sambil menunggu mangsa rampokan, atau dalam kasus ini: saya.

Mobil kembali berjalan, kali ini melewati sebuah U-turn. Kembali berduaan, saya lalu berusaha mengobrol dengan si pak supir/calo tadi. Dengan menggunakkan bahasa isyarat dan dibantu  apps penerjemah saya bertanya  tentang namanya dan keluarganya. Apakah dia punya anak atau nggak, berapa jumlah anaknya, dan tentu saja siapa namaya. Ternyata bahasa isyarat dan bantuan apps penerjemah tadi sama sekali  tak berguna.  Kami berdua tetap kebingungan, hanya suara “Mieao” yang bisa saya tangkap dari dia, jadi saya juluki orang ini Pak Miaeo.

Alasan saya mengajak dia ngobrol adalah derdasarkan pemikiran asal-asalan, saya percaya kalau obrolan apalagi topik tentang keluarga adalah sesuatu yang bisa membuat orang males atau mencegah orang berbuat jahat. Yah semoga saja itu ada benarnya, toh saya selamat sampai kembali di Indonesia =).

Tak lama kemudian mobil saya  ini memasuki kawasan ruko,melalui jalan rusak dengan tempat pembuangan sampah besar. Sebuah kawasan ruko yang gelap dan dihiasi oleh papan nama lampu neon terang yang menyolok mata, mengganggu luar biasa. Entah apa yang ada dalam ruko-ruko dibaliknya. Imajinasi saya yang berlebihan mulai membuat adegan film Triad Hongkong, dimana para kakak pertama berkumpul main mahjong dan berstrategi merebut uang dan daerah lawan.

[caption id="attachment_3347" align="aligncenter" width="615"]ed_DSC_0314 Pemandangan ruko depan, dambil dari kamar saya di lantai 2, tak heran saya membayangkan Triad bermain mahjong. Walau orang bermain mahjong sebenernya satu hal yang biasa.[/caption]

Imajinasi yang mulai buyar, saat saya ditepuk Pak Miaeo dan ternyata kami sudah sampa di sebuah ruko berlantai empat  yang ternyata penginapan keluarga Pak Miaeo. Kedua anaknya yang tengah bermain game di tablet android bertugas sebagai resepsionis, mereka lalu mencatat administrasi untuk saya menginap, Mereka tampak bingung saat saya memberi paspor sebagai bukti identitas saya. Rupanya mereka pikir saya orang lokal yang berdialek entah dari bagian mana tiongkok. Akhirnya diputuskan saya akan jadi tamu gelap dan nama saya tak dicatat.

Kami lalu berjalan menuju lorong gelap yang ternyata menggunakan lampu bersensor yang menyala kalau ada suara orang berjalan. Saya lalu diantar ke sebuah ruang tidur 3 X4 meter dengan WC dalam. Ada satu tempat tidur queen size ditengah-tengah ruangan. Sementara dindingnya bercat putih dan berhiaskan tempelan koran berkanji. Tidak mewah sama sekali dengan kebersihan yang hanya cukup, tapi jauh lebih baik daripada tidur di terminal.

Masalah tempat tidur sudah selesai.  Saat ini pukul 00.40, saatnya mengurus perut yang keroncongan. Tapi itu adalah cerita lain lagi ;P

[caption id="attachment_3348" align="aligncenter" width="426"]Pemandangan pagi hari kawasan ruko tempat saya menginap. Pemandangan pagi hari kawasan ruko tempat saya menginap.[/caption]
Written by: Icak (@darmastyo)
Edited by: @hanie_20 (ig)

Leave a comment

Please note: comments must be approved before they are published.