Torch

Tipe Traveler Apakah Sob? Yuk Ikuti Kuis Kepribadian Ini! ;)

Setiap traveler memiliki kecenderungan atau pilihan masing-masing dalam menentukan destinasi wisata hingga kegiatan favorit saat traveling. Kecenderungan tersebut tanpa disadari merupakan bagian dari kepribadian seorang traveler. Menurut survey yang dilakukan oleh TORCH, terdapat 4 tipe kepribadian traveler berdasarkan beberapa faktor. Penasaran tipe traveler apakah sebenarnya Sob? Yuk ikutan kuis simple dibawah ini, check it out!
  1. Tempat traveling favorit? A. Pantai B. Tempat bersejarah, cth: candi, museum C. Mall, tempat kuliner/restauran D. Gunung/bukit/hutan
  1. Sob lebih suka traveling dengan siapa? A. Pasangan/pacar B. Teman C. Keluarga D. Sendiri
  1. Aktivitas traveling favorit? A. Menikmati sunrise/sunset di pinggir pantai B. Keliling tempat bersejarah C. Shoping dan wisata kuliner D. Kegiatan outdoor, cth: hiking, flying fox, bungee jumping
  1. Transportasi favorit ketika traveling? A. Bus, kereta api B. Kendaraan pribadi C. Pesawat terbang D. Hitchiking/nebeng untuk sampai ke tempat tujuan traveling
  1. Jenis tas yang selalu dibawa ketika traveling? A. Backpack/tas ransel B. Travel bag/duffle bag C. Koper D. Carrier/tas gunung
  Cek hasilnya di bawah ini! # Jika lebih banyak jawaban A, maka Sob termasuk tipe ROMANTIC TRAVELER Tipe traveler ini cenderung menyukai tempat-tempat dengan view yang indah nan romantis. Bersantai berdua dengan pasangan menikmati sunset di pinggir pantai atau puncak bukit akan jadi pengalaman menyenangkan dan tak terlupakan. Rekomendasi tempat traveling: Bali, Batu (Malang), Lembang, Phuket (Thailand), Paris, Santorini, Maldives, Venesia # Jika lebih banyak jawaban B, maka Sob termasuk tipe INTELLECTUAL TRAVELER Tipe traveler ini cenderung menyukai tempat-tempat seni dan bersejarah, mengenal asal-muasal suatu tempat atau kejadian dengan mengunjungi berbagai museum dan candi yang ada di tempat tujuan traveling bersama teman. Rekomendasi tempat traveling: Yogyakarta, Toraja, Eropa, India, Machu Picchu, Istanbul, Kairo # Jika lebih banyak jawaban C, maka Sob termasuk tipe LUXURIOUS TRAVELER Tipe traveler ini cenderung menyukai tempat-tempat dengan fasilitas modern dan mewah untuk menikmati tempat wisata. Mulai pergi menggunakan pesawat terbang atau bahkan menyewa jet pribadi, menginap di hotel berbintang hingga jalan-jalan ke tempat wisata dengan budget fantastis Dari tampilan luarnya, biasanya tipe ‘luxurious traveler’ dapat dikenali dengan bawaannya berupa koper, tas dan setelan pakaian branded. Rekomendasi tempat traveling: Bali, Lombok, Raja Ampat, London, Paris, Jepang, Korea Selatan # Jika lebih banyak jawaban D, maka Sob termasuk tipe ADVENTUROUS TRAVELER Tipe traveler ini cenderung menyukai tempat-tempat dengan suasana alam seperti pegunungan, perbukitan atau hutan. Mereka pun senang melakukan berbagai jenis kegiatan outdoor yang dapat menantang adrenalin mulai dari trekking, hiking hingga melakukan hal-hal ekstrem seperti bermain water sport, paralayang, flying fox dan bungee jumping. Rekomendasi tempat traveling: Lombok (Gunung Rinjani), Matantimali –Sulawesi (Paralayang), Bali (Water Sport & Bungee Jumping), Selandia Baru (Flying Fox, paralayang, bungee jumping), Brazil (hutan Amazon), Tanzania (Savana Afrika) Dari ke-4 tipe traveler yang telah disebutkan, termasuk tipe apakah Sob? Share jawabannya ya! :D  
Written by: @hanie_20

Full article →

Berwisata Seru Ala Eropa di Farm House Lembang

Sudah punya rencana liburan akhir tahun?

Jika belum, liburan serta berwisata ke Farm House Lembang di Bandung bisa jadi alternatif seru. Tempat dengan konsep peternakan ala Eropa ini menawarkan hiburan alam yang bisa Sob nikmati bersama teman ataupun keluarga. Beralamat di Jl. Raya Lembang No. 108, akses untuk menuju kesini cukup mudah; Tinggal mengikuti jalan raya Lembang di sebelah kanan sebelum Grand Hotel Lembang. Tiket masuknya pun cukup terjangkau yaitu sebesar Rp 20.000 plus tiket parkir sebesar Rp 5.000 (untuk motor) dan Rp 10.000 (untuk mobil). Lahan parkir Farm House yang luas bisa menampung banyak mobil dan motor. Tukarkan tiket masuk dengan segelas susu murni segar atau sosis bakar yang lezat.

Selain itu, Sob bisa berfoto ria bersama beberapa binatang yang ada di Farm House seperti burung, sugar glider, kelinci, kuda dan domba lucu dengan bulu wol-nya yang lebat.

[gallery columns="4" size="large" ids="5540,5538,5541,5539"]

Tempat yang sedang hits di instagram ini juga memiliki berbagai bangunan unik yang cocok dijadikan spot foto, salah satunya ialah 'Rumah Hobbit'. Untuk bisa berfoto di "Rumah Hobbit", Sob harus sabar mengantri karena banyak orang juga yang ingin berfoto disana.

[caption id="attachment_5537" align="aligncenter" width="640"]Antri untuk foto di Rumah Hobbit Antri untuk foto di Rumah Hobbit[/caption]  

Spot foto lainnya yaitu bangunan-bangunan unik berarsitektur Eropa klasik. Bangunan-bangunan ini sebenarnya merupakan toko souvenir dan restauran. Jika berminat, Sob dapat membeli berbagai cendramata unik untuk oleh-oleh ataupun mencicipi makanan yang ada di restaurant. Harga makanan disana bervariasi, mulai Rp 8.000 hingga Rp 50.000.

[gallery columns="4" size="large" ids="5545,5544,5543,5542"]

Karena cuaca di Lembang cukup dingin, lebih baik Sob menggunakan baju tebal atau jaket agar tak menggigil kedinginan. Selain itu, cukup bawa travel pouch atau tas selempang kecil untuk menyimpan segala keperluan seperti dompet dan gadget agar lebih praktis.

So, tertarik berwisata ke Farm House Lembang? :)
 
Written and Documented by:@hanie_20

Full article →

Mengenal Ritual Mumifikasi di Pedalaman Papua Nugini (17+)

Bukan hanya di Mesir, proses mumifikasi juga ditemukan di pedalaman Papua Nugini tepatnya daerah Aseki. Masyarakat asli Aseki atau yang lebih dikenal sebagai Suku Angga pada jaman dahulu memiliki tradisi mumifikasi yang unik yaitu dengan ritual pengasapan. Cara ini tentunya berbeda dengan proses mumifikasi di Mesir yang dilakukan dengan metode pembalsaman.

Seperti yang dilansir dari bbc.com, Kamis (3/12/2015), ritual pengasapan dimulai dari 'membersihkan' mayat dengan mengeluarkan lemak beserta isi tubuhnya lalu dimasukkan kedalam keranjang bambu dan selanjutnya diasapi serta dilumuri semacam tanah liat berwarna merah agar tubuh mayat awet dan tak gampang hancur. Setelah proses pengasapan selesai, para mayat mumi ini diletakkan begitu saja di tebing yang curam.

Meski terlihat sadis dan menyeramkan, ritual pengasapan ini merupakan bentuk penghormatan tertinggi terhadap orang mati yang dilakukan oleh Suku Angga di dataran tinggi Morobe selama ratusan tahun. Hal ini dibuktikan dengan peninggalan 14 mayat mumi berusia +/- 200 tahun yang masih awet dan dapat disaksikan hingga saat ini.

Berikut ini merupakan beberapa hasil dokumentasi oleh reporter BBC, Ian Lloyd Neubauer:  
Written by: @hanie_20
Web source:www.bbc.com

Full article →

TIPS & TRIK FLASHPACKERAN HEMAT KE SINGAPURA (2 HARI 1 MALAM)

Berawal dari quotes,
“Once a year, go someplace you’ve never been before”

Saya dan sahabat saya, Irna, ‘iseng’ merencanakan liburan kilat ke negara tetangga, Singapura. Mulai dari berburu tiket pesawat promo, hunting penginapan hingga cari tiket wisata murah secara online kita lakuin sendiri demi liburan hemat dan murah. Berikut ini langkah serta tips bagi Sob yang ingin coba flashpackeran 2 hari 1 malam ke Singapura.

• Berburu Tiket Pesawat Promo

Yang terpenting ketika Sob akan melakukan flashpacker hemat ialah mendapatkan tiket pesawat semurah mungkin karena budget terbesar ada di tiket pesawat. Rajin-rajin cek website atau sosmed maskapai low-fare, contohnya Air Asia. Sob bisa mendapatkan harga miring untuk tiket pulang-pergi (PP) hingga rate Rp 600ribu-an. Walau ketika melakukan flashpacker saya mendapat tiket Rp 779ribu/orang untuk PP (tanpa tambahan apapun, seperti bagasi, pilih kursi, asuransi dan makanan).

• Hunting Penginapan Murah

Hal yang terpenting kedua ialah penginapan. Hunting penginapan atau hostel murah melalui web-web seperti Agoda dan Traveloka karena biasanya harga yang ditawarkan lebih murah dibandingkan booking langsung ke penginapan/hostel yang dituju.

Selain itu, kita juga bisa melihat review para traveler yang pernah menginap untuk dijadikan bahan pertimbangan. Waktu itu saya order penginapan 5footway Inn Bugis via Traveloka dengan rincian 1 kamar Superior Double (window) with shared bathroom (kamar mandi terpisah) dengan harga Rp 613.193 semalam untuk 2 orang. Jadi saya hanya membayar sekitar Rp 306.600 untuk penginapan di daerah Bugis.

Saya memilih penginapan ini karena lingkungannya yang aman dan nyaman, dekat dengan Masjid Sultan dan pusat perbelanjaan cinderamata dengan harga relatif murah. Walau kamarnya cukup kecil, tapi bersih serta pelayanannya sangat ramah ditambah sudah termasuk sarapan dan Wi-Fi (ini penting untuk dunia per-updetan, hehe). 5footway Inn Bugis ini juga dekat dengan stasiun MRT Nicoll Highway, kurang dari 5 menit jalan kaki.

[caption id="attachment_5425" align="aligncenter" width="640"]Suasana Sarapan di Penginapan 5FootWayInn Suasana Sarapan di Penginapan 5FootWayInn[/caption]  

Jika Sob ingin mendapatkan penginapan atau hostel lebih murah, Sob bisa memesan kamar hostel dormitory dengan jumlah 4-14 orang per-kamar. Range harganya mulai dari Rp 130ribu-an per orang.

• Cari Tiket Wisata Murah

Bagi saya, berlibur ke Singapura kayaknya gak lengkap kalau cuma jalan-jalan keliling doang Sob. Alhasil, saya dan Irna memutuskan untuk mengunjungi Sentosa Island tepatnya museum patung lilin Madame Tussaud. Kami membeli tiket secara online di Buka Lapak seharga Rp 222 ribu. Lebih murah dibandingkan beli langsung di ticket box Sentosa Island seharga S$ 30 (sekitar Rp 291 ribu, dengan rincian 1 dollar Singapura sebesar Rp 9.700). Sob bisa browsing di beberapa online store terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk beli tiket karena harga-nya berbeda-beda.

  • Menyusun Itinerary Walaupun keliatannya sepele, itinerary atau rencana perjalanan sangat penting untuk flashpackeran Sob!

Dengan membuat list tempat mana yang akan dikunjungi, Sob dapat memanfaatkan waktu selama disana secara maksimal. Dibawah ini ialah contoh itinerary ketika saya dan sahabat saya melakukan flashpackeran 2 hari 1 malam di Singapura:

[caption id="attachment_5399" align="aligncenter" width="1003"]Contoh itinerary flashpacker 2 hari 2 malam ke Singapura Contoh itinerary flashpacker 2 hari 1 malam ke Singapura[/caption]   • Akomodasi dan Perlengkapan Beli Tiket STP (Singapore Tourist Pass)

Untuk transportasi selama disana, Sob bisa sesuaikan dengan itinerary atau rencana perjalanan. Jika Sob akan lebih sering jalan-jalan ke berbagai tempat, lebih baik Sob membeli tiket transportasi bernama STP (Singapore Tourist Pass). STP ini dikhususkan untuk turis yang akan tinggal/berlibur di Singapura dalam waktu singkat mulai 1-3 hari. Kelebihan dari STP ini ialah Sob bisa naik turun MRT (Mass Rapid Train), LRT (Light Rapid Train) dan bus sepuasnya tanpa harus ribet Top-Up.

[caption id="attachment_5426" align="aligncenter" width="439"]MRT Singapore Suasana MRT Singapore[/caption]    

Saya membeli STP untuk 2 hari seharga S$ 26 (sekitar Rp 252.200). Memang agak mahal, tapi Sob dapat refund/ menerima uang kembali sebesar S$ 10 setelah mengembalikan kartu STP ke counter passanger (note: kartu STP ini bisa di-refund atau dimiliki, saya sendiri memilih refund di counter passanger Bandara Changi terminal 1 sebelum pulang ke Indonesia karena lumayan dapat kembali 10 dollar, keliatan ‘hemat’ nya ya,, hhi).

[caption id="attachment_5400" align="aligncenter" width="480"]Singapore Tourist Pass Singapore Tourist Pass[/caption]   Paket Internet

Sehari sebelum ke Singapura, saya dan Irna memutuskan untuk patungan membeli paket internet international roaming (Hot Promo Singapore) Telkomsel untuk internetan, sms dan telepon seharga Rp 150ribu (Rp 75ribu/orang). Paket internet ini penting untuk flashpacker yang baru pertama kali ke Singapura. Kami menggunakannya untuk akses google map (agar gak nyasar), mengabari keluarga dan tentunya update dong biar eksis hha (maklum anak muda masa kini).

Makanan Halal

Bagi Sob yang beragama muslim, tentunya makanan halal penting dong… Saran saya, selalu cari makanan dengan tanda atau tulisan Halal. Jika tak menemukan tempat makan dengan tanda halal, cari yang ada tulisan “No Pork, No Lard”. Jika masih ragu-ragu juga, Sob bisa cari gerai-gerai fast food terkenal seperti McD, KFC, dll. karena sudah ter-SOP halal #CMIIW.

Harga makanan di Singapura pun bervariasi mulai dari S$ 2, contohnya roti prata, makanan India yang saya makan di sebuah resto India di Little India (pusing gak tuh baca India-nya? Hhi). Sob juga bisa coba nasi biryani dengan kari ayam di restoran Bugis seharga S$ 3.9. Sebenarnya ada beberapa resto dan makanan Indonesia, tapi come on buat apa jauh-jauh ke Singapura untuk makan-makanan dari negara sendiri :P

[gallery columns="2" size="large" ids="5401,5402"] Minuman

Karena harga air mineral di Singapura terbilang cukup mahal, sekitar S$ 1.2, sebaiknya Sob bawa tumblr atau tempat minum dari rumah. Karena disana terdapat keran air siap minum dan Sob dapat mengisinya dengan gratis,,,tis,,,, tis. Ya, namanya juga flashpacker hemat Sob! :D

Dokumen Penting

Untuk flashpackeran atau liburan ke Singapura, beberapa dokumen ini wajib Sob bawa dan Jangan Sampai Ketinggalan! * Passport dengan masa tenggang minimal 6 bulan * Identity Card atau KTP * Boarding Pass (Tiket pesawat PP… note: Jika Sob menggunakan Air Asia, maka Sob bisa Check In online via web sehingga tak perlu check in lagi di bandara alias langsung masuk ke ruang tunggu atau boarding room) * Bukti pembayaran penginapan Jika Sob memesan penginapan via online, cetak bukti pembayaran dan alamat tempat Sob menginap karena Sob harus mencantumkannya di embarkation form sebelum melalui pemeriksaan imigrasi.

Untuk membawa segala perlengkapan seperti pakaian dan dokumen-dokumen penting, saya dan Irna menggunakan tas travel (backpack) ukuran 24 L dan travel pouch (tas selempang) dari Torch. Simpel, gak ribet dan yang jelas ringan plus kuat sehingga menyenangkan dibawa saat flashpackeran.

Berikut ini beberapa foto hasil dokumentasi selama flashpackeran 2 hari 1 malam di Singapura, check it out! ;)
So, siap flashpackeran ke Singapura Sob?! :)
 
Written and Documented by: @hanie_20

Full article →

Traveling ke Eropa? Yes We Can! :D

Traveling ke negara-negara Eropa memang menjadi impian banyak traveler Indonesia. Selain banyak tempat keren dan bersejarah, Eropa juga terkenal akan sistem transportasi modern dan kebersihannya. Salah satu Sobatorch yang biasa disapa Mas Goyo serta istrinya berkesempatan keliling Eropa selama 1 minggu. Ia akan share pengalaman serta kesan-kesannya saat traveling ke Eropa.

Check it out! ;)

Minggu, 20 September 2015

Traveling Eropa

Menurut saya, perjalanan antar kota berkeliling Eropa itu nikmatnya dijalani dengan transportasi darat; termasuk di antaranya menggunakan kereta dan bis. Bis merupakan opsi yang lebih murah, tapi kereta tentunya terasa lebih nyaman.

Stasiun utama kota-kota besar di Eropa biasanya megah dan tua. Tampak tua, tapi tetap bersih dan terawat. Contohnya ya Zurich Hauptbahnhof (Zurich HB, atau Stasiun utama Zurich) di bawah ini.

Stasiun utama Zurich

Mirip seperti Indonesia, Swiss juga sangat terbuka pada keberagaman. Bedanya mungkin mereka terbuka tidak hanya pada keberagaman suku dan agama, tapi juga ras dan suku-bangsa. Poster-poster di stasiun ini menunjukkan keberagaman tersebut; ada mas Omer dari Eritrea (foto atas, sebelah kanan) atau mbak Jin dari Korea Selatan (foto  atas sebelah kiri). Saya lupa nama dan asal dari mbak dan mas di bawah   ini…

Stasiun Zurich

Stasiun-stasiun di Eropa adalah tempat yang terbuka. Orang tidak perlu punya tiket untuk masuk ke peron. Untuk menggunakan jasa kereta, tentu saja perlu tiket. Pemeriksaan akan dilakukan di atas kereta.

Stasiun MRT Zurich

Hal yang paling saya sukai dari jasa kereta di Eropa adalah ketepatan waktunya. Hal tersebut membuat saya nyaman merencanakan perjalanan, termasuk tidak khawatir salah naik atau turun, karena tinggal mencocokkan dengan jam tangan saja. Swiss precision :-).

Tiket kereta bisa dibeli secara online ataupun di loket/mesin di stasiun. Umumnya tiket-tiket itu bersifat free-seating. Tapi, kalau berombongan dan ingin memastikan duduk berdekatan, bisa memesan nomor tempat duduk dengan membayar biaya lebih. Menurut pengalaman saya, kayaknya tidak perlu pesan karena keretanya jarang penuh. Apalagi saya hanya berpergian berdua -- gampang disempil-sempilin hehehe.

Lihat, empat bangku hanya untuk  berdua…

MRT Zurich  
Written & Documented by: Mas Goyo
Edited by: @hanie_20
 

Full article →

Mendaki Gunung Rinjani, "Gunungnya Para Dewa"

Sudah pernah mendaki ke Gunung Rinjani, Sob? Pastinya penasaran kan dengan keindahannya?

Gunung yang memiliki tinggi 3.726 meter ini merupakan gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia setelah Gunung Kerinci di Pulau Sumatra.

[caption id="attachment_5164" align="aligncenter" width="640"]Danau-Segara-Anak Danau-Segara-Anak (by: blog.hicity.co.id)[/caption]

Gunung Rinjani merupakan gunung yang dipercaya oleh masyarakat hindu bali sebagai tempat bersemayamnya para dewa selain dua gunung lainnya yaitu Gunung Semeru dan Gunung Agung. Banyak jalur pendakian untuk mencapai puncaknya, namun jalur yang umum dipakai oleh para pendaki adalah jalur Sembalun-Senaru.

Mengawali pendakian dari jalur sembalun, kita akan disuguhkan pemandangan savana yang begitu luas. Panas terik matahari langsung menyorot tubuh para pendaki, oleh karenanya sepanjang jalur sembalun sampai puncak terdapat 3 pos peristirahatan yang biasa digunakan pendaki untuk beristirahat meneduh atau juga mendirikan tenda.

[caption id="attachment_5166" align="alignnone" width="810"]Jalur Pendakian Sembalun Jalur Pendakian Sembalun (by: arsiyawenty.wordpress.com)[/caption]

Sesampainya di pos 3, para pendaki biasanya akan bermalam dulu lalu hari berikutnya melakukan pendakian ke puncak, biasanya mengambil waktu tengah malam untuk mengejar matahari terbit. Setelah puas dengan pemandangan matahari terbit, para pendaki bersiap untuk turun melalui jalur Senaru. Di jalur pulang sob bisa juga mendirikan tenda di sekitar Danau Segara Anak, di sana Sob bisa memancing ikan ataupun berendam di sekitar danau.

Sebuah paket pendakian yang lengkap untuk sebuah Gunung di Indonesia. Pemandangan di jalur turun melalui Senaru dipenuhi pohon-pohon yang sangat kontras dengan jalur pendakian Sembalun. Begitu banyak panorama yang akan kita dapatkan ketika kita mendaki Gunung Rinjani.

Sebelum Sob memutuskan untuk mendaki Gunung Rinjani, ada beberapa tips yang bisa sob ikuti sebelum melakukan pendakian ke Gunung Rinjani.

  1. Rencanakan anggaran pendakian dari jauh-jauh hari. Anggaran dari mulai transportasi, logistik, menyewa alat-alat dan lain-lainnya.
  2. Persiapkan logistik (perbekalan) lebih dari hari pendakian yang kita anggarkan dan jangan pelit untuk membeli bahan makanan bervariasi dan bergizi.
  3. Pastikan dahulu apakah kita akan menggunakan porter atau tidak, survey dahulu berapa harga porter dan kebiasaan-kebiasaan porter di Gunung Rinjani.
  4. Disarankan untuk mengambil jalur berbeda ketika mendaki dan turun, seperti Sembalun dan Senaru, karena akan memberikan pengalaman yang berbeda di setiap jalurnya.
  5. Siapkan perlengkapan seperti manset dan topi untuk melewati jalur Sembalun guna melindungi dari sengatan panas matahari
  6. Sob juga bisa membawa alat pancing untuk memancing di Danau Segara Anak yang konon ikannya besar-besar!

Setelah semua persiapan sudah terceklis, siapkan pula fisik yang kuat, baiknya juga melakukan pendakian-pendakian kecil ke gunung-gunung yang lebih rendah dari Gunung Rinjani. Setelah itu siapakan mata Sob untuk menikmati panorama keindahan Gunung Rinjani yang disebut sebagai 'setitik keindahan surga di dunia'.

Selamat mendaki Sob!!!

#Sumber gambar dan tulisan berasal dari beberapa web dan blog
Written by: @teguhgetuk
Edited by: @hanie_20

Full article →

Menengok Tingkah Menggemaskan Para Panda di Negeri Tirai Bambu

Panda adalah binatang yang menakjubkan.

Konon, 4000 tahun yang lalu, Kaisar Huang memiliki kawanan panda yang dijinakkan untuk berperang! Dengan kumpulan panda ditambah singa dan leopard, Kaisar Huang berhasil  mengalahkan Raja Yan.

Legenda lain mengatakan bahwa pada 1700 tahun yang lalu, ada dua pasukan yang tengah bertempur hebat. Tiba-tiba salah satu pihak mengibarkan bendera berlambang panda. Langsung saja  pertempuran itu berhenti  dan kedua pihak lalu berdamai.

Bahkan saat ini, Tiongkok sering meminjamkan panda ke berbagai negara dalam rangka diplomasi. Hewan lucu ini berperan sebagai tanda itikad baik dan kerjasama antar Tiongkok dan negara lainnya.

*) Semua foto panda diambil di  Chengdu research Base of Panda Breeding, Chengdu, Tiongkok.

Bonus video lucu panda :) [embed]https://youtu.be/jARvNVLV6u4[/embed]


Written & documented by: Icak (@darmastyo)
Edited by: @hanie_20

Full article →

MENDAKI RERUNTUHAN NEMRUT DAGI (TURKI)

#CeritaIcak #181HariKelilingAsia

Nemrut Dagi atau Gunung Nemrut adalah satu puncak gunung di pedalaman Turki. Puncaknya memiliki ketinggian 2.134 meter. Namun puncak gunung ini tak bisa didaki karena merupakan makam Raja Antiochus I dari kerajaan Commagene yang memerintah pada abad ke-1 sebelum masehi.

Di sisi barat terdapat reruntuhan patung-patung yang terpenggal, semua kepalanya terlepas dari badannya. Patung-patung raksasa berukuran 8-9 meter ini melambangkan dewa-dewa Yunani, Armenia atau Iran. Patung-patung ini diidentifikasi sebagai Vahagn atau Hercules, Ahuramazda atau Zeus, Bakht atau Tyche dan Mihr atau Apollo atau Mithra. Dan ditengah-tengah mereka ada patung Antiokhus I yang sejajar dengan para dewa-dewa.

Uniknya, lokasi Nemrut Dagi sangat jauh dari bekas ibu kota peradaban di masa lalu. Sama seperi piramida, hal ini membuat arkeolog bertanya-tanya bagaimana manusia jaman dahulu membawa patung-patung tersebut ke puncak gunung. Bahkan bagaimana caranya mereka membangun Tumulus (atau kerucut besar) yang konon menutupi makam Antiokhus.

Written & documented by: Icak (@darmastyo)
Edited by: @hanie_20

Full article →

Apakah Sob Tipe Traveler Menyebalkan? Cek Ciri-Cirinya Disini!

#CeritaIcak #181HariKelilingAsia

Saat melakukan perjalanan, sebenarnya sob masuk tipe traveler seperti apa sih?

Jujur saja, saya sulit untuk menjawab pertanyaan seperti di atas. Saya menggangap diri saya sebagai traveler yang biasa saja, gak kurang gak lebih, “sedang-sedang saja” lah bahasa populernya. Seperti judul lagu ya :))

Selama saya melakukan banyak perjalanan, saya sering kali menemukan contoh nyata traveler yang enggak banget alias menyebalkan. Seperti yang saya temukan saat perjalanan keliling 11 negara Asia kemarin.

Hargailah warga lokal, jangan menjadi traveler yang menyebalkan!

Saat itu saya bertemu dengan seorang ibu berkebangsaan Finlandia (beliau sebelumnya berkebangsaan Taiwan yang bekerja sebagai pengajar bahasa Inggris di Spanyol, unik kan?). Ibu ini sangatlah unik, bahkan terlalu unik. Salah satu keunikannya ialah saat akan membeli makanan. Beliau gemar mencicipi semua makanan yang dijual. Ibu ini sering berkata tidak enak bila tidak menyukai makanannya lalu pindah ke makanan sebelahnya dan berkata tidak enak lagi hingga terus mencicip semua makanan sampai kenyang dan pada akhirnya tidak membeli satu makanan pun.

Masih ada satu kasus unik tentang Ibu ini. Suatu saat di dalam bis, ibu ini berpura-pura sakit perut agar mendapatkan tempat duduk dan menyingkirkan seorang nenek renta yang sebelumnya duduk di kursi tersebut. Nggak banget kan?

Namun jangan salah Sob... hal ini tidak ada hubungan dengan kebangsaan. Terlepas dari perilakunya yang menjengkelkan, ternyata ibu ini orangnya sangat baik sekali. Berkat dia, saya bisa couchsurfing di tempat kenalannya di Krygyzstan. Berdasarkan obrolan dengan host couchsurfer, saya tahu jika ibu ini membantu membersihkan rumah si tuan rumah ini. Ibu ini bahkan mengepel seluruh lantai dapur dan ruang makan walau sudah dicegah oleh si tuan rumah agar tidak perlu repot-repot membersihkan rumahnya. Namun si tuan rumah ini gagal mencegahnya. Ibu yang baik ini secara tidak sengaja berhasil membuat tuan rumah malu akan kebersihannya (yang sama sekali tidak kotor). Bahkan si tuan rumah harus membeli spons cuci piring baru karena alih-alih menggunakan lap pel, Ibu ini mengepel menggunakan spons cuci piring (dan tanpa merasa berdosa menaruh kembali spons itu ke tempat cuci piring. Sementar dengan diam-diam, si tuan rumah membuang spons kotor tersebut).

Saku Rahasia itu artinya RAHASIA...

Masih dengan cerita si ibu berkebangsaan Finlandia. Suatu waktu beliau mendapatkan wangsit untuk membeli makanan. Setoples madu yang manis. Rasa manis madu ini mampu meluluhkan hati si ibu untuk membelinya. Saat ia  hendak membayar, keunikan lainnya mulai terjadi. Saat itu ibu ini tidak memiliki uang som (mata uang Krygyzstan) di tangan atau di dompetnya. Tapi ia memiliki puluhan lembar uang som di saku rahasianya. Ya! Di saku rahasia yang biasanya menjadi tempat rahasia para traveler. Saku rahasia merupakan tempat uang cadangan untuk keadaan darurat. Mengingat namanya, “saku rahasia” sudah seharusnya tetap terjaga kerahasiaannya. Namun ibu ini membocorkan rahasianya sendiri. Ia membuka saku rahasia dan mengambil selembar dari belasan lembar uang som yang ia punya.

Satu hal yang jadi masalah di sini adalah letak posisi saku rahasia si ibu ini. Saku rahasianya terletak di bagian atas depan celana dalamnya. Saat itu Ibu ini sedang menggunakan rok. Saat akan membayar, ia mengangkat bagian depan roknya, membuat semua orang tertegun karena kaget melihat pemandangan yang tidak indah itu. Ia mengambil selembar uang som lalu memberikannya pada penjual, namun sang penjual enggan menerimanya (saya paham mengapa penjual itu menolaknya. Saya pun akan menolaknya bila ada di posisi si penjual).

Buah-buahan segar yang dicoba oleh si ibu. Tampak kanan atas adalah kaki dan rok yang digunakan si ibu
Buah-buahan segar yang dicoba oleh si ibu. Tampak kanan atas adalah kaki dan rok yang digunakan si ibu

Tentu saja setelah rahasianya ketahuan. Ibu ini bisa menjadi sasaran empuk kejahatan (walau mungkin para penjahat pun enggan merampok uang dari saku rahasianya).

Kalau mau memaki, pergunakan bahasa ibumu. Kecuali ibumu berbahasa Inggris, kalau begitu janganlah memaki!

Melakukan perjalanan memang gak selamanya menyenangkan Sob. Terkadang kita menemukan kejadian yang menyebalkan. Bahkan sering kita menjadi bagian dari kejadian menyebalkan itu. Seperti peribahasa yang berbunyi “sudah jatuh tertimpa tangga” dan malah terkadang besinya terbuat dari besi. Apabila badan sudah terasa letih dan kejadian menyebalkan menimpa kita, memaki adalah salah satu cara untuk menghilangkan stress.

Seperti kawan Polandia saya ini. Siang itu dia tertipu membayar makanan yang tidak enak dan sangat mahal. Saat kami naik bis malam ke kota Tabriz, kakinya dilipat karena tidak muat. Ditambah dengan sopir yang ugal-ugalan dan mengomel dalam bahasa Farsi.

Saya sendiri berusaha tenang dan mencoba untuk tidur. Sayangnya saya tidak bisa tidur karena ada seseorang yang menendang-nendang dengan tidak sabar dan berkata “fu*ck, fu*ck, fu*ck!”. Saya sangat merasa tidak nyaman dan merasa penumpang lainnya pun merasa terganggu.

Siapakah orang yang memaki-maki itu? Ternyata orang itu ialah teman Polandia saya. Dia menjadi pusat perhatian para penumpang lokal dan membuat nama traveler menjadi buruk. Saat bis berhenti di tempat peristirahatan, saya memberi tahu dia jika yang dia lakukan bukanlah hal yang baik. Setiap orang yang pernah menonton film berbahas inggris pasti tahu apa itu “fu*k”. Ia pun akhirnya menyadari kesalahannya.

Setelah bis kami berjalan kembali, keadaan menjadi lebih tenang. Akhirnya saya bisa tertidur pulas, begitu pun dengan penumpang lainnya. Sementara kawan Polandia saya ini berusaha mengurangi kekesalannya, mengubah nada suaranya lebih ceria walau tetap memaki-maki dalam bahasa ibunya.

Written & documented by: Icak (@darmastyo)
Edited by: @hanie_20

Full article →

Jogja, I'm in Love! (Part 3-Final)

Bagi Sob yang belum baca artikel sebelumnya, bisa klik dibawah ini :) Jogja, I’m in Love (Part 1) Jogja, I’m in Love (Part 2)

Setelah puas keliling Gunung Kidul, keesokan harinya saya melakukan kultural trip ke daerah keraton kesultanan Jogjakarta. Namun pada pagi harinya sebelum berangkat ke Keraton, saya dan Thia kulineran ke pasar minggu Sunday Morning (SunMor) di UGM. Sesuai dengan namanya, pasar tumpah ini hanya diadakan di UGM pada hari Minggu. Mulai dari kuliner beragam jenis hingga keperluan rumah tangga bisa Sob dapatkan disini dengan harga yang lumayan miring loh, sesuai dengan target market (ceileh) yang rata-rata para mahasiswa. Disana saya mencoba berbagai jenis kuliner mulai dari jajanan Korea yang lagi hits hingga yang paling unik, yaitu es krim pot. Bagi Sob yang belum familiar dengan es krim pot, nih saya kasih fotonya, hhehe :D

Es Krim Pot Sunmor UGM
Es krim pot dengan tambahan ‘cacing’ jelly dan bunga cantik diatasnya

Puas kulineran dan kenyang, kami pun balik ke kosan untuk mandi dan bersiap-siap ke keraton. Seperti biasa Sob, untuk menuju kesana saya mengeluarkan ‘jurus andalan aplikasi WAZE agar terhindar dari nyasar yang menyesatkan. Jarak dari kosan di Kaliurang ke keraton ternyata gak terlalu jauh Sob, hanya sekitar 20 menitan menggunakan motor. Sampai disana, kira-kira jam 2 siang ternyata keraton sudah tutup… yah lemes deh saya. Tapi untungnya ada mang becak yang bersedia mengantar kami ke 2 spot sekitar keraton; Museum Kereta Karaton dan tempat pembuatan bakpia terkenal. Tentunya gak gratis Sob, hari ini gak ada yang gratis selain bernafas hehhe :P … Dengan 10ribu, kami pun sowan ke dua tempat tersebut. Sebenarnya sih gak terlalu jauh dan bisa ditempuh dengan jalan kaki, tapi biarlah hitung-hitung bagi rejeki serta terhindar dari kegabutan dan nyasar #pembelaandiri.

Spot pertama yang kami datangi ialah Meseum Kereta Karaton. Untuk bisa berkeliling di museum ini, terdapat tiket masuk seharga 5ribu plus 1ribu jika ingin ambil foto. Saya pikir kenapa gak genap aja 6ribu ya, biar gak repot gitu… gimana kalau ada yang gak jujur.. yah walaupun sebenarnya itu mah urusan orang tersebut sama Tuhan.. Tuhkan jadi salah fokus =_=

Loket Tiket Museum Kereta Karaton
Loket Tiket Museum Kereta Karaton
  Pertama masuk ke museum, kok saya agak merinding disko gitu ya. Bukan berarti disitu diputar lagu disko loh… lol. Mungkin karena aura dari kereta-kereta kuno dan benda lainnya yang ada di museum, atau karena (……….). Ah tapi sudahlah, saya gak mau mikir jauh :(

Disamping suasananya yang agak ‘eksotis’, saya pribadi mengagumi koleksi kereta kencananya. Sangat artistik, elegan dan detail seperti kereta kencana Cinderella. Andai saja bisa naik dan duduk di kereta kencana, tapi sayangnya gabisa Sob hiks. Saya Cuma bisa membayangkan naik kereta kencana emas yang ditarik rombongan kuda putih nan gagah… aiiih… :”)

[gallery columns="2" size="medium" ids="5006,5016"]

Setelah puas berfoto ria di museum; saya, Thia dan mang becak lanjut menuju tempat pembuatan bakpia. Baru masuk ke tempatnya saja, wangi kue khas Jogja itu sudah berani menggoda saya Sob! Lalu saya pun berkeliling melihat mbak-mbak yang sedang buat serta packing bakpia. Saya sebenernya mau bantuin Sob, tapi takut khilaf tau-tau abis dicemilin kan gak lucu ya. Jadilah saya bantu dengan doa sembari ambil foto sang mbak yang sedang bekerja.

[gallery columns="2" size="medium" ids="5021,5017"]

Tergoda dengan wangi dan pesona kue bakpia, saya pun akhirnya membeli satu dus bakpia rasa green tea. Iya rasa green tea Sob! Mau tau gimana rasanya? Enak bangeet, rasa green tea-nya kerasa tapi gak terlalu over… pas! Sekotak bakpia green tea bisa Sob dapatkan seharga 40ribu. Memang sedikit agak mahal dari bakpia pada umumnya, tapi Sob gak akan nyesel setelah mencicipinya. Gak percaya? Well,  jangan percaya saya… langsung cicip sendiri Sob :D (*berharapdiendorsebakpia yeaah!)

Sekotak bakpia green tea yang laziiiiiz
Sekotak bakpia green tea yang laziiiiiz

Tak jauh dari daerah keraton, ada satu spot lagi yang kami datangi Sob, yaitu objek wisata Taman Sari. Disana, kami menjelajahi lorong bawah tanah sebelum sampai ke Puing Sumur Gumuling yang konon pada jamannya difungsikan sebagai masjid bawah tanah. Disana juga ada bangunan berlantai dua yang juga disebut sebagai "Pulo Panembung”, tempat sultan bermeditasi di jaman dahulu.

[gallery size="medium" ids="5010,5011,5012"]

Selain puing peninggalan jaman dahulu, saya juga menemukan beberapa pondok kesenian salah satunya ialah pondok lukis. Ternyata disekitar spot wisata terdapat perkampungan warga yang asri dan berbagai display kerajinan seni. Saya kagum dengan hasil karya seni warga disana Sob… gak kalah dengan karya seni maestro terkenal.

[gallery columns="2" size="medium" ids="5023,5007"]

Puas berkeliling, kami pun memutuskan pulang ke kosan sebelum hari gelap karena saya harus mengejar kereta pulang ke Bandung jam 8 malam. Tapi sebelum saya pulang ke Bandung, Thia mengajak saya untuk makan di resto seafood tak jauh dari kosannya. Tempatnya yang nyaman, cozy dan bersih ala kafe anak muda ini menyediakan berbagai jenis makanan laut mulai dari ikan bakar hingga jamur krispy kesukaan saya. Awalnya saya kira harga makanan disana mahal Sob… tapi ternyata harganya lumayan miring loh. Dengan menu agak banyak dan dua gelas minuman untuk dua orang, harganya gak sampai 50 ribu, only 47 ribu dan kami pun puas plus kenyang. Harga makanan yang relatif murah dengan rasa yang laziiiz sangat recommended untuk dicicipi jika Sob sedang berkuliner ria di Jogja!

[gallery columns="2" size="medium" ids="5013,5022"]

Setelah kenyang makan sore, kami kembali ke kosan karena saya harus bergegas packing dan menuju Stasiun Tugu Jogja untuk pulang ke Bandung. Rasanya beraaat banget Sob, saya masih betah dan ingin jalan-jalan ke tempat keren lainnya. Tapi saya tetap harus pulang ke Bandung karena pekerjaan di kantor menanti. Terimakasih banyak Jogja atas liburan ‘singkat’ 3 hari 2 malamnya, khususnya sobat saya sejak SMP, Thia, yang sudah menampung saya di kosannya selama disana. Saya terkesan dengan keramahan masyarakat serta tempat-tempat wisatanya yang keren. Terimakasih juga TORCH yang telah support saya untuk traveling ke Jogja…Sukses dan jaya selalu! Semoga next traveling juga tetap support saya yaa… ahihihi *maunyaemang *siapayanggakmaucoba :P

Nantikan cerita perjalanan saya berikutnya, kemana ya? Ke hati Sob boleh gak? :D

See you! Byeeee…..

Stasiun Tugu Jogjakarta, Bye Jogja! See you when I see you!
Stasiun Tugu Jogjakarta, Bye Jogja! See you when I see you!
Written and Documented by: @hanie_20(ig) 
Sponsored by: TORCH

Full article →

Jogja, I'm in Love! (Part 2)

Bagi Sob yang belum baca part 1, silahkan klik disini :)

Setelah malam hari puas menyelusuri jalanan Malioboro, keesokan harinya saya dan Thia berpetualang ke daerah wisata kabupaten Gunung Kidul. Untuk menuju kesana, kami memutuskan untuk menyewa mobil dan driver lokal untuk menghindari kemungkinan nyasar hehe… Spot pertama yang kami datangi adalah Desa Wisata Bejiharjo. Disana Sob bisa memilih paket wisata alam yang terdiri dari cave tubing Goa Pindul, Susur Sungai Oyo dan Susur Goa Gelatik. Diantara 3 paket wisata itu, kami hanya memilih 2 paket wisata yaitu cave tubing Goa Pindul dengan tiket masuk 35ribu dan susur Sungai Oyo dengan tiket masuk sebesar 45ribu.

Selama cave tubing, kami ditemani oleh seorang guide kocak yang merasa dirinya mirip Afghan bernama Wahyudi. Mas Afghan KW ini cerita kalau banyak artis dan acara TV yang pernah syuting di Goa Pindul. Suasana alam sekitar Goa yang bersih dan asri memang juara banget Sob, gak heran banyak artis dan wisatawan yang berkunjung kesana. Selain itu, cave tubing Goa Pindul juga unik karena kita akan dibawa menyusuri sungai alami bawah tanah yang super duper eksotis.

Setelah beres dengan cave tubing, kami lanjut menyusuri Sungai Oyo. Berbeda dengan cave tubing Goa Pindul yang dapat ditempuh dengan jalan kaki, untuk menuju Sungai Oyo kita diangkut dengan 'truk sapi' karena jaraknya lumayan jauh. Trek yang masih berbatu, membuat perjalanan menjadi seru seperti off-road. Sesampainya disana, kami masih harus trekking lagi untuk menuju Sungai Oyo. Sekedar tips, jika Sob mau kesana sebaiknya pakai sandal yang nyaman karena trek berupa bebatuan sungai yang licin. Sob juga bisa meminjam sepatu sandal khusus yang disediakan oleh pengelola wisata.

Sesampainya di Sungai Oyo, saya mendadak speechless saking indahnya Sob…. Air bersih dan jernih berwarna hijau tosca yang dikelilingi tebing batu kapur membuat pemandangan sungai menjadi sangat indah dan eksotis. Saya merasa seperti sedang berada di Sungai Amazon…hehe :D

Sama seperti cave tubing, untuk menyusuri Sungai Oyo kami menggunakan ban khusus atau yang biasa disebut tubby dan ditemani oleh seorang guide yang bertugas menarik tubby kami serta menjelaskan wisata Sungai Oyo. Si mas guide (saya lupa namanya) bilang kalau banyak juga turis asing yang berwisata kesana. Benar saja, saya melihat satu geng bule kece yang sama-sama sedang melakukan susur sungai. Mereka keliatan sangat excited hingga mencoba ‘loncat indah’ dari atas tebing sungai. Sebenarnya saya juga mau sih, tapi khawatir kerudung saya terbang lepas saat loncat (*alesan padahal mah takut aja…hhaha).

Puas berpetualang di Desa Wisata Bejiharjo, kami melanjutkan perjalanan ke daerah pantai sekitar Gunung Kidul, yaitu Pantai Indrayanti dan Pok Tunggal. Untuk masuk ke kawasan pantai tersebut, terdapat tiket retribusi sebesar 10 ribu/pantai. Kedua pantai ini memiliki view laut keren dikelilingi pasir putih. Perbedaannya ialah Pantai Indrayanti punya gugusan batu karang besar yang cocok banget untuk berfoto ria, yeaaah!

Sore harinya, sembari menunggu sunset, kami menuju Pantai Pok Tunggal yang tak jauh dari Indrayanti. Suasananya lebih sepi dari pantai pertama...sangat perfect buat menikmati sang surya tenggelam. Karena sepi, saya pun puas berguling-guling ria diatas pasir putih yang bersih. Well, berguling ria sudah menjadi kebiasaan saya setiap ada di pantai. Kalau kata Syahrini sih “I feel free!” :P

Selesai bermain-main dan menyelusuri pantai, kami pun pulang ke kosan yang berada di daerah Kaliurang. Perjalanan pulang lebih lama sejam dibanding perjelanan pergi yang hanya menghabiskan waktu kurang dari 1.5 jam karena macet. Sesampainya di kosan, kami pun segera bersih-bersih dan istirahat karena keesokan harinya kami akan lanjut kultural trip ke daerah Keraton dan Taman sari.

Simak perjalanan saya keliling Keraton Jogja di I’m in Love (Part 3)! ;)

Written and Documented by: @hanie_20(ig)
Sponsored by: TORCH

Full article →

ULAK TARTYSH, BALAP KUDA REBUTAN DOMBA!

#IcakJourney edisi #Kyrgyzstan

10 orang pengendara berkuda memasuki padang rumput. Kuda-kuda mereka berderap cepat, lalu berpisah menjadi dua tim dengan masing-masing 5 joki pengendara. Mereka berhadapan. lalu satu buah  benda menyerupai karung goni diletakkan di tengah lapangan.

Eh, karung  goni? gumpalan bulu? Bukan, itu bangkai binatang! Ya itu bangkai binatang! Bangkai apa yang tampak seperti satu bantal besar berbulu? Ternyata itu bangkai domba mati!

Sebelum Sob selesai membaca kalimat diatas, semua pengendara tadi sudah memacu kudanya, saling bertabrakan, bergumul dan memperebutkan bangkai domba yang berperan sebagai bola atau kokpar. Ini adalah Ulak Tartysh! Kaum turki menyebutnya Buzkashi, sementara di Afganishtan, Turkmenistan dan negara Asia Tengah lain mengenalnya sebagai Kokboru.

Ulak Tartysh adalah satu olahraga kaum pengendara kuda di Asia Tengah. Sekilas olahraga ini tampak seperti campuran antara rugby dan polo. Ada pergumulan, ada perebutan, ada tabrakan dan ada bangkai domba.

Para pengendara tadi dikenal sebagai Chapandaz,  mereka berebut bangkai domba tadi kemudian membawanya ke area lawan.  Tujuan dari permainan ini adalah memasukkan bangkai domba mati tadi ke satu buah gawang yang berbentuk lingkaran Kazan berdiameter 3.6 meter dan tinggi 1.5 meter. Permainan dilakukan 2x45 menit dan pemenangnya adalah tim yang memasukkan skor terbanyak.

Olahraga “bola”  ini memang unik Sob! Satu domba mati berbobot 25-30 kg dipersiapkan secara istimewa; kepala dan kakinya dipotong agar tidak  mencederai kiuda-kuda yang berharga. Setelah itu, bangkai ini dicelupkan ke air es selama 2 hari agar dagingnya alot dan tak mudah tercerai berai saat diremas, ditarik, direbut dan dilempar kesana-kemari oleh kedua tim yang berlaga.

Ulak Tartysh Ini adalah kebanggaan kaum nomaden, harta nasional bangsa Kyrgyzstan. Saking populernya olahraga ini, terdapat satu  kompetisi liga profesional khusus untuk Ulak Tartysh yang  disiarkan secara langsung oleh televisi nasional ke seluruh penjuru Kyrgyzstan.

Written & documented by: Icak (@darmastyo)
Edited by: @hanie_20

Full article →

Jogja, I’m in Love! (Part 1)

Hi Sob! Perkenalkan saya Hani, salah satu bagian dari #TorchTeam… Jum’at kemarin, tepatnya sehari setelah Idul Adha, saya ‘kabur’ dari kantor untuk flashpackeran ke kota gudeg, Jogjakarta. Bagi yang belum tahu, flashpackeran ialah berlibur dalam waktu yang singkat. Perjalanan saya dimulai dari Stasiun Kota Bandung, naik kereta Lodaya Pagi pada jam 07.20.

Stasiun Kota Bandung
Stasiun Kota Bandung

Saat naik kereta, sebenarnya sih saya berharap bakal satu tempat duduk dengan cowok ganteng bin kece kayak cerita film drama picisan itu loh… yang selanjutnya kenalan, jalan dan akhirnya jatuh cinta  hahaha. Tapi hidup kan gak se-oke cerita drama yes.. Di perjalanan, saya berkenalan dengan salah satu mahasiswa universitas negeri di Bandung sebut saja dia Ratna. Awalnya sih saya cuek, tapi akhirnya karena gabut1 saya ajak ngobrol mojang Bandung ini dan ternyata obrolannya nyambung lalu jadilah kita bergosip sepanjang perjalanan mulai dari trend anak muda masa kini (saya masih muda loh...*penegasan) hingga gosip hot seperti gosip artis hingga ayam kampus, cckckck. Bertemu dengan orang dan menjalin pertemanan baru memang salah satu hal mengasyikan dari solo traveling Sob… Yah, seperti saya yang bertemu Ratna di kereta dan berakhir dengan gossip seru sepanjang perjalanan.

[gallery columns="2" size="large" ids="4712,4716"]

Keasyikan ngobrol, 8 jam perjalanan Bandung-Jogjakarta gak terasa Sob… akhirnya kami berpisah di Stasiun Tugu karena tujuan akhir Ratna di Stasiun Solo. Turun dari kereta, saya langsung banjir keringat-gerah banget rasanya. Walau ini bukan pertama kalinya saya ke Jogja, tapi saya tetap tak terbiasa dengan udara panas disana. Membawa satu buah backpack semi-carrier dan satu travel pouch, membuat saya merasa seperti wonder woman, entah mengapa hehehe. Disana, saya pun lalu dijemput sahabat saya, Thia, yang berkuliah di UGM. Sialnya, dia masih belum hapal jalanan kota karena baru sebulan menetap di Jogja… Walhasil saya mengeluarkan jurus andalan, jreng jreeeng aplikasi map WAZE! Akhirnya kami pun berhasil keluar dari jalur sesat dan berada di jalan tepat.. wuush!

Jalanan di Kota Jogja
Jalanan di Kota Jogja

Guna menghemat budget, saya pun memutuskan “dengan sedikit memaksa” untuk menginap di kosan sahabat saya itu… yah namanya juga anak muda dengan budget seadanya yang penting senang dan tetap hemat :P

Sebelum meluncur ke kosan, saya menyempatkan diri sowan ke UGM… Luas dan besar banget ternyata ya Sob! Kalau jalan kaki berkeliling UGM bisa dipastikan Sob langsung kurus kering saking luasnya.

 
UGM
Gerbang Depan UGM

Setelah puas keliling UGM, kami langsung meluncur ke kosan untuk bersiap-siap ke Malioboro pada malam harinya. Malioboro merupakan salah satu jalan di Jogja yang terkenal sebagai surganya tempat belanja souvenir dan berkuliner ria. Disana Sob bisa kulineran khas Jogja sepuasnya (baca: sesuai isi dompet) karena terdapat banyak jajanan dan angkringan. Yang menjadi favorit saya selain gudeg adalah lumpiah gorengnya. Penganan ini berisi sayur mayur seperti parutan wortel dan rebung serta aneka toping mulai dari potongan daging ayam, telur burung puyuh hingga udang. Nyuuum! Laziiiz enak banget!!!

Nasi Gudeg Ayam
Nasi Gudeg Ayam

Selain tempat belanja dan kuliner, disana Sob juga bisa menyaksikan pertunjukkan musik tradisional dengan beberapa orang yang memainkan alat musik dan satu orang yang ‘joget ala ulet’ (meliuk-liukkan badannya seperti ulet di film kartun larva). Walau saya tak menemukan korelasi antara musik dan jogetan atau tariannya, saya tetap menyaksikannya sambil sesekali tertawa karena yang lain tertawa. Sob gak tahu kan kalau ketawa itu bisa nular? Well, saya mengalaminya…. :’D

[embed]https://www.youtube.com/watch?v=brCgIOewQEM[/embed]
Seniman Musik Jogja dengan Penari Latar yang Kocak dan Kreatif *Sayang video joget ala larva yang saya rekam gak bisa di-upload T-T*

Sebenarnya saya ingin ikut joget ala larva, tapi saya masih memikirkan kenyamanan hidup para penonton lainnya jadilah saya mengurungkan niat saya itu.

Ada banyak hal lain yang bisa kita lihat dan temui ketika berjalan-jalan di Malioboro, contohnya ialah mas-mas dan mbak-mbak bule yang asyik pacaran sambil keliling kota naik becak atau delman. Aisssh, so sweet… bikin saya sedikit iri dan baper =_=

Daripada tambah baper2, akhirnya kami pun memutuskan pulang ke kosan untuk tidur dan beristirahat karena besoknya kami punya rencana seru berpetualang ke Gunung Kidul!

----To be Continued!---

----Bersambung ke Jogja, I’m in Love! (Part 2) ;)

*gabut1: Bosan, bete karena suatu hal

*baper2: Bawa Perasaan

Written and Documented by: @hanie_20(ig)
Sponsored by: TORCH

Full article →

BAMB! BUKAN AIR MINUM BIASA!

Shui(水) atau ob atau su atau water adalah satu hal yang nggak akan mungkin lepas dari keseharian kita. Iyap tepat sekali Sob, semua kata diatas adalah air dalam berbagai bahasa; Bahasa Tionghoa, Farsi, Turki dan Inggris. Nah inilah yang akan saya ceritakan kali ini, tentang air minum lebih tepatnya.

Manusia dewasa normal konon harus meminum air sebanyak 2 liter tiap harinya. Nah ini adalah angka minimal yang harus kita kejar supaya tubuh kita tidak kekurangan cairan. Sebagai informasi, rata-rata air minum kemasan besar di Indonesia berukuran 1.5 liter, kemasan sedang berukuran 0.6 liter, sementara kemasan kecil biasanya 0,33 liter. Jadi untuk memenuhi asupan cairan, untuk mudahnya kita perlu satu air minum botolan kemasan besar dan satu air minum botolan kemasan sedang.

Kondisi kurangnya cairan dalam tubuh dinamakan dehidrasi. Tanda-tanda akan dehidrasi adalah rasa haus, pening, keluar banyak cairan, ingin buang air kecil dan air kecilnya berwarna kuning pekat. Apa jadinya kalau kita dehidrasi? Fungsi-fungsi tubuh kita akan terganggu Sob. Dimulai dari kurangnya konsentrasi seperti iklan-iklan air mineral di televisi, sampai kerusakan ginjal bahakan sampai kematian.  Konon batas ketahanan manusia untuk tidak minum adalah tiga hari, lalu setelah itu... yah, tinggal dimandikan dan dikuburkan hehe…

Saya sendiri beberapa tahun yang lalu pernah beberapa kali merasakan gejala dehidrasi ringan yang menurut saya cukup menyebalkan parah. Saat itu matahari sedang terik, sementara saya melakukan aktifitas fisik tanpa minum air barang setitik. Tanda pertama adalah pening dan haus yang saya hiraukan saja. Lalu muncul keinginan kuat untuk buang air kecil. Sayangnya saat itu tak ada setetes air kencing yang bisa keluar. Hanya saja ada rasa sakit luar biasa disana. Pengalaman dehidrasi begini sangatlah menyebalkan. Ada dua hal yang saya sangat benci dari kondisi ini: satu, rasa sakit yang sangat. Dua, kalau hal ini terjadi, yang harus saya lakukan adalah minum air dalam jumlah banyak (bisa 3 botol air 1.5 liter) dalam waktu dekat supaya saya bisa buang air kecil. Bayangkan dari awalnya rasa kehausan tiba-tiba jadi kembung air seketika! Untungnya setelah kejadian-kejadian itu, rasanya tubuh saya masih baik-baik saja sehingga masih mampu berjalan-jalan kemana-mana.

Pengalaman menarik terkait air minum juga saya alami dalam perjalanan 181 hari saya. Salah satunya adalah pengalaman minum air bergas di Kyrgyzstan. Pengalaman lainnya? Oh masih banyak! Salah satunya adalah menggunakan mesin dispenser air di dua negara ASEAN (Malaysia dan Thailand). Untuk menggunakan mesin ini, kita harus memiliki wadah untuk kita minum. Taruh wadah dibawah keran, lalu masukkan koin ke slot koin. Voila! Air akan mengalir sesuai nominal koin yang kita masukkan. Oiya mesin dispenser ini bisa ditemukan dimana-mana lho! Dipinggir jalan, di belokan, di bawah jembatan. Mudah sekali untuk ditemukan. Harga air isi ulang ini juga sangat murah dibandingkan dengan membeli air mineral di toko. Harganya sekitar 0.1 RM di Malaysia dan 1 Bath per liter di Thailand.

Oiya, rasanya tak ada mesin seperti ini di Singapura. Disana, kita bisa minum air langsung dari keran. Sudah bersih dan higienis! Suer! Beneran, saya kagak boong!

[caption id="attachment_4615" align="aligncenter" width="480"]Dispenser air minum di Khaosan, Bangkok Dispenser air minum di Khaosan, Bangkok[/caption]   Lain lagi dengan India. Di negara ini tak ada mesin dispenser air seperti diatas dan kita harus berhati-hati membeli air minum kemasan. Berdasarkan informasi dari pejalan lain, saya disarankan untuk selalu minum air kemasan. Konon kandungan bakteri pada air minum selain air minum kemasan mampu membuat manusia mencret-mencret 4 hari 4 malam (kalau minum air kemasan, yah mencretnya hanya sekitar 1 hari 1 malam laah. itu pun bukan karena airnya. Tapi karena makanan pingir jalan di India hahaha).

Membeli air minum kemasan di India harus selalu di toko yang terpercaya dan tampak bonafit. Jangan beli air minum kemasan di sembarang tempat! Konon ada oknum warga setempat yang mengambil botol air minum kemasan bekas pakai lalu mengisinya dengan air-putih-entah-darimana-atau-sebersih-apa yang higienitasnya diragukan. Lalu menutup kembali dengan tutup botol baru yang masih tersegel! Segel baru yang tak beda dengan segel aslinya! Lalu mereka akan menjual air minum kw-9 ini pada manusia-manusia tak berdosa yang akan mengalami kesialan pada perutnya!

Pengalaman lain yang menarik tentang air adalah saat saya berada di negeri Tiongkok. Kala itu saya berada disatu kota kecil Jinchang, provinsi Gansu. Kota ini terletak di pinggir padang pasir Badain Jaran. Cuaca panas dan kering padang pasir membuat saya mudah merasa haus. Kehausan, saya lalu bergegas ke sebuah toko kelontong kecil untuk membeli air minum.

Sedikit tertular oleh sifat ingin berhemat yang konon dimiliki orang Tionghoa, saya lalu memilih air minum dengan kemasan terbesar, 1 botol besar berukuran 4 liter. Tentu saja seharusnya harga air kemasan 4 liter lebih murah daripada membeli 4 buah air kemasan 1 liter.  Namun hal itu tak terjadi. Harga air ini malah lebih mahal daripada air minum lainnya yang pernah saya beli, tapi tak terlalu mahal sampai membuat enggan membelinya. Karena enggan bertanya masalah harga (dan saya juga gak bisa bahasanya) saya lalu membayar air minum tadi dan membawanya ke kamar hotel.

Di kota Jinchiang, mungkin saat itu saya adalah satu-satunya wisatawan asing di sana. Saya terpaksa menginap di hotel yang agak lumayan karena tak ada hostel disana. Setelah sampai di kamar, sendirian dan penuh rasa kehausan, saya lalu bergegas membuka tutup dari si botol air minum kemasan 4 liter. Tiba-tiba semerbak tajam wangi buah memenuhi ruangan. Darimanakah bau ini berasal? Ternyata wangi buah ini dari botol kemasan 4 liter tadi. Eh? Apakah ini air dengan rasa buah, sehingga harganya mahal?

Bukan, ternyara ini adalah arak!

Sejenis arak murahan dengan kemasan botol plastik ukuran 4 liter. Dam*! @#%! Jadi saya baru saja membeli 4 liter arak untuk saya sendiri. Satu hal yang sangat tak berguna karena saya tak mungkin bisa menghabiskan 4 liter minuman beralkohol sendirian.  Tanpa mabuk berat. Tanpa bisa dibagi untuk kenalan lain. Apalagi saya bukan seorang yang minum alkohol! Padahal saya kehausan!

Singkat cerita pada akhirnya saya harus kembali keluar, berjalan dibawah terik matahari padang pasir dan membeli air minum kemasan 4 liter dengan harga sepersepuluh sebelumnya. Sial!

[caption id="attachment_4616" align="aligncenter" width="478"]Dispenser lokal di satu lorong di Palembang, gratis! Asal gak pake botol! Dispenser lokal di satu lorong di Palembang, gratis! Asal gak pake botol![/caption]  
Written & documented by: Icak (@darmastyo)
Edited by: @hanie_20

Full article →

SEMALAM DI KHAOSAN ROAD 'KAMPUNGNYA PARA BACKPACKER'

Khaosan Road adalah nama satu jalan yang sangat terkenal bagi para pelancong, pejalan dan backpacker sedunia. Sejarah keterkaitan Khaosan road dimulai pada tahun 1970an, saat kaum hippie pelancong memulai trend traveling. Saat itu ada 4k yang terkenal, Kabul, Kathmandu, Kuta dan Khaosan.

Dahulu Khaosan road adalah daerah penginapan termurah di Bangkok. Kemudian para pejalan dan backpacker bermunculan. Sejak saat itu mulailah tempat ini menjadi “perkampungan backpacker”. Film The Beach (2000) juga membantu mempopulerkan Khaosan road.

Daerah Banglamphu di sekitar jalan sepanjang 1 km ini menyediakan segalanya bagi pejalan pemula. Mulai dari biro jasa Imigrasi, rekan seperjalanan (yang mungkin saja jodoh), agen wisata tiket, terminal bayangan, penginapan murah mulai dari 20 orang/kamar sampai 1 orang/kamar, minuman keras, calo, penipu, dll. Yah, nyaris semuanya ada disini.

Lucunya, pejalan dan backpacker berpengalaman cenderung memilih tinggal diluar area Khaosan road. Tapi tetap saja Khaosan memiliki atmosfer berbeda.

Khaosan, kampung backpacker, Gerbang Asia Tenggara. Konon disinilah segalanya dimulai...
Written & documented by: Icak (@darmastyo)
Edited by: @hanie_20

Full article →

PEOPLE AND CULTURE (PART 1)

Kita hidup di bumi dengan sekitar 7.366.145.787 manusia didalamnya. Bahkan sebelum kalimat ini selesai ditulis, jumlah manusia di dunia ini sudah berubah- karena kelahiran dan kematian. Manusia adalah hal yang sangat menarik untuk diperhatikan. Tidak ada manusia yang identik serta memiliki wujud yang sama persis 100%. Terdapat milyaran manusia di dunia, membuat sebagian banyak lainnya tak terperhatikan.

Tentu saja, manusia adalah bagian yang mewarnai bumi dan kehidupan..

Written & documented by: Icak (@darmastyo)
Edited by: @hanie_20

Full article →

CARI TEBENGAN SAAT BACKPACKING? SIAPA TAKUT SOB!

Liften, nebeng, hitchhike atau numpang adalah satu cara untuk melakukan perjalanan dengan kendaraan orang lain yang bisa jadi belum kita kenal, biasanya juga yang menyetir kendaraan tersebut bukan kita, sampai akhirnya kita bisa mencapai tujuan kita. Umumnya bisa dilakukan dengan gratisan atau minimal menyumbang ongkos ganti bensin saja. Apabila kita harus membayar lebih dari itu, itu namanya bukan nebeng dan sangat mungkin kita salah naik kendaraan. Kalau itu sampai kejadian seperti itu mungkin sebenarnya kita naik taksi dan bukannya nebeng.

Budaya nebeng ini agak kurang umum di Indonesia, tapi sebenarnya budaya nebeng ini banyak dipakai di perbagai negara di dunia sebagai media traveling yang murah, walaupun murah relatif sih ya. Bisa jadi kita harus membayar lebih “mahal” kalau kebetulan si orang yang kita tebengin itu menyebalkan, bau badan, tebar pesona dan ngegombalin kita mulu.

Nah, sob pernah coba nebeng? Seru lho! Banyak banget pengalaman baru (dan juga teman baru) yang bisa didapat berkat nebeng. Kalau belum pernah, cobain deh sekali-kali cari tebengan ketika sedang traveling. Lumayan siapa tau tiba-tiba ketemu jodoh (asal bukan si supir yang bau badan dan suka tebar pesona tadi).

Tentang nebeng, saya pernah bertemu traveler unik dari Lituania yang kebetulan bisa 8 bahasa dan bisa belajar bahasa cepet banget- bakat turunan dari kedua orang tua yang linguist (ahli bahasa). Oiya si traveler unik ini mencoba travelling dari negaranya sampai Thailand dengan cara nebeng. Saat itu dia sudah berjalan hampir 5 bulan dan saya bertemu dia di Iran, entah kapan dia bisa selesai sampai Thailand.

Di negara Tiongkok yang luasnya agak-agak kurang ajar (luas Tiongkok tuh sekitar 9,6 juta km2 atau 1.3 trilyun luas lapangan bola), saya kebetulan dapat kesempatan untuk nebeng dari Kota Kangding ke Kota Chengdu. Saat itu saya bersama tiga orang Perancis yang kebetulan sedang kehabisan uang, mengumpulkan keberanian mencari tebengan warga lokal untuk membawa kita ke Chengdu. Perlu diingat, kalau secara umum Bahasa Inggris orang-orang Tiongkok agak buruk. Sementara kita? Kemampuan Bahasa Tionghoa dua orang dari kami hanya berguna untuk memesan makanan saja, satu orang lain cukup fasih mengucapkan halo dalam Bahasa Tionghoa sedangkan Bahasa Tionghoa saya hanya berguna untuk memesan mie sapi saja.

Pagi itu kami menentukan rencana penebengan kami. Rencananya sederhana, mencari mobil yang mau berhenti, bilang Chengdu lalu nebeng secara gratisan. Oiya kami juga membuat rencana untuk bertemu di Chengdu apabila tiap dari kami terpisah dan menumpang dalam kendaraan yang berbeda.

Satu, dua, hingga empat mobil melewati kami tanpa berhenti. Beberapa mobil terlihat mau malu-malu mau menampung tetapi gak jadi berhenti, mungkin karena melihat kami yang orang asing. Saya baru saja mau mulai skeptis, kalau kita gak akan dapat mobil tumpangan. Tiba-tiba sebuah mobil van buick buatan Amerika berhenti. Supirnya, seorang developer bangunan, bertanya tujuan kami. Ia rupanya sedang menuju Yaam, tapi ia bisa membawa kami ke Jalan Tol Xianshinmen sejauh 90 km dari lokasi kami sekarang. Melihat kami yang gak paham dimana Xianshimen, si supir lalu mengeluarkan peta.... dalam aksara Tiongkok! Tetep aja kami ga paham alias gabisa baca petanya! Supaya cepat, tanpa dikomando kami semua berpura-pura paham dan mengangguk-anggukan kepala menyetujui tawarannya.

Ternyata cukup mudah nyari tumpangan di Tiongkok. Kurang dari satu jam, kami sudah naik mobil van mewah disetirin satu orang kaya yang mampu berbahasa Inggris. Supir ini bahkan sudah beberapa kali ke Amerika Serikat, untuk roadtrip menyusuri pesisir barat Amerika. Tahun 2016 ia ingin kembali ke Amerika plesir-menyetir dari pesisir barat ke pesisir timur.

Mendekati jam 14 waktu setempat, tiba-tiba si supir berhenti dan mengajak kami makan siang. Ia lalu berhenti di satu tempat mewah yang nampaknya ada diluar jangkauan anggaran kami yang hanya backpacker biasa. Dem! Bisa ngehabisin anggaran 4 hari kalo gini! Tapi apa daya, sebagai penebeng miskin, kami paling akan menunggu beliau makan. Diluar... di parkiran

Pucuk dicinta ulam pun tiba, si supir menyuruh kami masuk dan makan bersamanya, Ditraktir! Menu siang itu adalah salad timun yang luar biasa enak, semacam sup ikan lele yang lebih enak lagi, dan bebek goreng! Ternyata restoran ini memang terkenal enak dengan masakannya. Terutama sup ikan lelenya, dengan satu ikan lele segede betis orang dewasa! Alhamdulillah makan enak, gratis, dianterin pula.

Sejenis sup ikan lele, 3 baskom besar ini hanya menggunakan satu lele segede betis!
Sejenis sup ikan lele, 3 baskom besar ini hanya menggunakan satu ekor lele segede betis!

Sekitar jam 19, kami sampai di pintu highway Xianshimen. Berfoto bersama lalu berpisah dengan supir yang baik hati tadi. Sekarang, saatnya mencari tumpangan jilid dua.

Setengah jam kemudian, satu mobil Ford Focus warna kuning berhenti depan kami. Hanya ada satu supir didalamnya, yang tampak agak gugup dan ragu-ragu. Mungkin ia mengira kami penjahat yang mungkin malak dia tengah jalan, sementara kami khawatir diturunkan ditengah jalan =)). Tapi ia menuju Chengdu! Cocok! Beberapa detik kemudian, kami berempat, bersempit-sempitan naik mobil supir baik ini ke Chengdu.

Si pemuda yang menyetir ini adalah seorang pekerja di Chengdu. Ia baru saja pulang dari kampungnya dan akan bekerja keesokan harinya. Ternyata ia gugup karena ingin belajar bicara Bahasa Inggris dengan orang asing, tapi juga takut karena kemampuan bahasanya pas-pasan. Salah besar! Bahasa inggirsnya bukan pas-pasan! Tapi minim sekali! Walau begitu, keberaniannya untuk mencoba patut dipuji. Ia mau membawa 4 orang asing berbadan besar (yang lusuh dan bau dimakan perjalanan) demi mencoba berbicara Bahasa Inggris!

Atas kebaikannya memperbolehkan kami menumpang, kami lalu mengajak ia berbicara dalam Bahasa Inggris. Yup, setiap orang dari kami mengajaknya berbicara, sampai secara tak sengaja, satu persatu dari kami ketiduran. Jadilah 2/3 perjalanan supir yang baik ini terpaksa kembali terdiam dan menyetir sendirian. Hahahaha...

Sekitar pukul 22.00 kami sampai di depan Mix Hotel, Chengdu. Sampai dengan selamat, tanpa mengeluarkan biaya apa-apa, juga ditraktir makan enak bahkan diantar oleh seorang pemuda baik yang gak bisa Bahasa Inggris. Sungguh pengalaman yang seru!

Written & documented by: Icak (@darmastyo)
Edited by: @hanie_20

Full article →

Urban Art di Berbagai Negara Asia (Part II)

Kembali lagi pada foto series urban art dari perjalanan yang saya lakukan. Kadang mereka sangat sederhana tetapi indah,  bisa membuat kagum atau bahkan bertanya-tanya. Bagaimanapun seni itu subyektif, tergantung cara subyek merasakan dan menikmatinya.

Semoga Sob menikmati sama seperti saya menikmatinya. Enjoy!

Written & documented by: Icak (@darmastyo)
Edited by: @hanie_20

 

Full article →

Makan Nasi Rasa Dupa? Sikaaaat Mang!

Ada beberapa pertanyaaan yang sering dilontarkan oleh orang-orang saat mereka mendengar saya melakukan perjalanan 181 hari ini. Salah satunya adalah, “nyuci bajunya gimana?”. Tapi sekarang bukan pertanyaan itu yang akan saya bahas. pertanyaan yang akan saya bahas adalah pertanyaan yang lebih sederhana; “makannya gimana?”

“Make mulut tentu saja.”

Anehnya banyak orang yang nggak puas kalo saya jawab seperti itu. Padahal itu bener kan? Kalo makan memang make mulut.

Karena banyak orang yang merasa itu bukan jawabannya, jadi sekarang saya akan bercerita pengalaman menarik saya tentang makanan.

Pertama-tama, saya akan bercerita tentang makanan paling menyeramkan yang saya makan selama perjalanan 181 hari tersebut. Bisakah sob-sob tebak apa makanan itu? Kalau sob menebak makanan paling menyeramkan yang saya makan adalah bilatung, sob salah! saya memang makan bilatung, jangkrik, kalajengking di Thailand, tapi itu rasanya biasa aja. Bahkan orang thailand memang makan binatang-binatang tadi sebagai kudapan.

Nah, makanan paling menyeramkan versi saya adalah saat di India, satu porsi Nasi briyani di waralaba ayam goreng tepung terkenal berlogo kakek-kakek kolonel berkacamata.  Sebenernya sih rasanya nggak seberapa buruk, tapi baunya itu lho. Orang India terkenal royal menggunakan rempah-rempah ke dalam makanannya, kebetulan saja rempah yang digunakan untuk nasi briyani ini adalah berbau dupa. Jadilah nasi ini berbau harum dupa seperti pada upacara-upacara pemanggilan arwah leluhur.

Tadinya saya berpikir bau ini ngga akan ganggu-ganggu amat. Tentu saja saya habiskan itu Briyani. Tapi saya lalu bersendawa, dan terasa semriwing bau dupa muncul dari dalam perut dan menyebar ke penjuru Panca indera. Sangat memuakkan. Rasanya seperti mau muntah. Rasanya ada genderowo yang mau keluar dari tubuh saya. Mungkin para  leluhur keberatan terlalu lama dalam perut saya.

Pengalaman lain yang menarik tentang makanan adalah di negeri Cina. Entah kenapa saya punya banyak sekali kenangan disini. Di negara yang kini disebut dengan Tiongkok ini, saya terpaksa sarapan mie sapi nyaris tiap hari selama 3 minggu berturut-turut! Salah saya sih yang hanya bisa melafalkan nama makanan ini dan dimengerti oleh orang setempat.

Suatu hari saya sempat  merasa nggak enak badan di kota kecil di pinggiran Tibet.  Saat malam tiba dan saya harus makan, jadilah saya pergi ke warung makan dan memesan makanan. Kebetulan pada ada satu kanji yang saya tahu yaitu..  mie sapi (nyuru mian - *bisa minta nyari kanji mie sapi? Browsing beef noodle in Chinese) jadilah saya memesan itu. Tak beberapa lama keluarlah satu mangkuk hangat mie sapi kuah pedas.  Hangat dan nikmat, membuat kondisi saya membaik.

Mie sapi di kota Litan.
Mie sapi di kota Litan

Keesokan harinya, saya berminat memesan makanan yang sama (jangan-jangan saya ketagihan mie sapi). Jadi saya pergi ke warung yang sama lalu menunjuk kanji yang sama dan menunggu makan siang saya datang.

Sup Sapi Cina
Entah makanan apa ini di warung yang sama di kota Litan

Jeng-jeng, tak lama kemudian pesanan saya tiba. Tapi kali ini bukan mie sapi sodara-sodara… makanan yang keluar ini berkuah dan sama sekali nggak ada mie di dalamnya. Dilanda kebingungan,  saya lalu mencoba menjelaskan kalo itu bukan pesanan saya. Tapi si mbak penjaga warung yakin kalau itu pesanan saya. Tambah bingung karena beda bahasa, akhirnya saya makan juga makanan yang keluar itu, satu porsi sup pedas rasa… Sapi!.

Makanan di negara Iran adalah yang paling tidak menarik bagi saya. Di negara ini yang saat itu masih diembargo Amerika Serikat, makanan yang paling mudah saya temui disana adalah… Fastfood! Burger, hotdog dan pizza dimana-mana! bahkan jenis  makanan ini lebih mudah ditemui dibanding toko makanan khas Iran. Oiya, salah satu menu terpopuler mereka adalah burger isi mie goreng!

Pernah saya diundang untuk sarapan bersama warga lokal kota Tabriz. Jam 9 tepat saya sampai di rumahnya.  Bapak yang bernama Ali lalu mengajak saya makan chalafati untuk sarapan. Makanan yang bernama chalafati memang konon terkenal untuk sarapan. Bahkan toko yang kami singgahi memiliki jam buka dari jam 4 sampai 10 pagi saja. Ternyata chalafati ini adalah rebusan daging kepala dan kaki kambing ditemani sup kaldu kambing yang dimakan dengan roti tipis. Agak mirip dengan sop kaki kambing di Indonesia, hanya saja chalafati ini hambar. Jadi pagi itu saya makan daging pipi, lidah, jeroan dan kaki kambing untuk sarapan!

Di kota Bishkek, Kyrgysztan, saya berkesempatan menjajal daging kuda (bahkan menghabiskan jatah beberapa orang). Walau sekarang mereka hidup di perkotaan, leluhur penduduk Kyrgyzstan adalah suku nomaden berkuda yang mungkin masih terkait dengan Jengis khan. Kebudayaan Nomaden inilah yang membuat warga Kyrgyzstan sangat menghargai kuda. Makanya daging kuda harganya sangat mahal. Sangat mahal sampai-sampai daging kuda hanya disajikan saat ada acara kematian.

Apabila ada yang wafat, keluarga almarhum lalu akan menyembelih kuda yang terbaik dan membagikan dagingnya pada sanak saudara dan handai taulan. Mereka percaya kuda ini akan menjadi kendaraan almarhum menuju surga. Sayangnya kegiatan ini hanya bisa dilakukan oleh keluarga kaya raya. Harga kuda terlalu mahal untuk sebagian besar warga perkotaan di Kyrgyzstan. Beruntung masih banyak kuda di pedalaman Kyrgyzstan, kalau di Indonesia mungkin almarhum lebih senang ke surga naek motor bebek matic.

Written & documented by: Icak (@darmastyo)
Edited by: @hanie_20

Full article →

MENGANGKASA KE 'ISTANA LANGIT' CAPPADOCIA

Semenjak ribuan tahun yang lalu, nenek moyang kita selalu berangan-angan untuk terbang. Mulai dari kisah Icarus yang terbang terlalu dekat dengan matahari sampai ditemukannya pesawat pertama oleh Wright Bersaudara. Ya, manusia memang selalu ingin merasakan terbang mengangkasa.

Dan salah satu jawabannya adalah balon udara.

Dimana kita bisa menemukannya? Göreme, Cappadocia, Turki tentu saja. Bukan hanya satu, belasan, puluhan balon udara sekaligus. Puluhan balon udara terbang mengangkasa menghiasi langit pagi.

Bayangkan bangun di pagi hari dan melihat mereka yang mengangkasa! Hal itu yang saya alami ketika pertama kali tiba disana.

Menakjubkan!

Dua pagi kemudian saya berkesempatan menaiki salah satu balon udara ini. Tidak murah memang... Tetapi layak untuk dicoba, mungkin ini kesempatan saya satu kali seumur hidup. Sekarang saya ingin berbagi beberapa pemandangan yang saya lihat di angkasa sana, “Sebuah pengalaman menakjubkan naik Balon Udara”.

Written & documented by: Icak (@darmastyo)
Edited by: @hanie_20

Full article →

ENJOY SHILIN, THE STONE FOREST

Selamat datang ke Shilin (), Stone Forest atau Hutan Batu. Suatu kawasan Taman Nasional karst di provinsi Yunnan, Tiongkok. Terletak 90 KM dari provinsi Kunming, kawasan ini memiliki luas 350KM2 dan beberapa lokasi termasuk dalam UNESCO World heritage Site. Terdiri dari jutaan jarum-jarum kapur yang menjulang ke langit, memasuki kawasan ini akan membuat kita merasa masuk ke dunia yang berbeda, satu hutan yang terbuat dari batu.

Banyak legenda yang beredar di hutan batu ini, salah satunya adalah cerita Ashima,  seorang wanita cantik dari Suku Yi. Ia jatuh cinta pada seorang lelaki bernama Ahei. Sayangnya Cinta mereka tak direstui. Ashima kemudian berubah menjadi batu dan menatap kejauhan berharap bisa melihat Ahei Lagi.

 

Written & documented by: Icak (@darmastyo)
Edited by: @hanie_20

Full article →

BERMALAM DI SHILIN, "THE MARS ON EARTH"

Mars? Lanjutkan membaca untuk tahu kisah dibalik foto ini.

Hari ke-55, menuju Shilin Stone Forest-China...

Waktu menunjukkan pukul 16.00 dan saya tiba di terminal kota Shilin. Sebuah kota terdekat dengan daerah hutan Batu Shilin. Disaat itu saya baru tersadar kalau saya ternyata salah naik bus. Bukan kesalahan yang pertama dan bukan pula kesalahan sama yang terakhir. Untungnya saya hanya terpisah beberapa belas kilometer dari tujuan saya.

Saya seharusnya naik bus yang berhenti di dekat gerbang Shilin Stone Forest, bukan yang menuju kota Shilin. Pasti di kota sebelumnya, si gadis manis penjual tiket salah memberikan tiket. Mungkin bukan sepenuhnya salah dia sih, ada sebagian kesalahan saya yang hanya bisa melafalkan “Shilin” dan terdiam seribu bahasa saat dia bertanya sesuatu. Dugaan awal saya adalah dia bertanya dari negara mana saya berasal atau jangan-jangan dia sebenernya mengajak saya kencan! Tapi sekarang saya yakin dia bertanya tentang kota tujuan saya. alhasil sampailah saya di terminal yang salah =)))

Tapi tak usah kuatir, saya berpengalaman nyasar kok ;).

Tak lama kemudian saya naik bus kota No.5 menuju hutan Batu Shilin (dan berdoa sudah naik bus yang benar). Kali ini saya melihat tebing batu besar yang tampak nyaman untuk dipanjat dan dipakai tidur, cocok dengan cerita yang saya dengar tentang Shilin, hutan batuan. Satu hutan dengan batu sebagai pohon-pohonnya.

Ada satu tebing batu besar tepat di area pintu depan Shilin. Setelah turun dari bus, hal yang pertama yang saya lakukan adalah berkeliling di tebing batu besar itu. Ketinggian tebing ini kira-kira hanya 6 -10 meter dan bukan jenis tebing untuk dipanjat. Tebing ini memiliki beberapa teras dan juga ada sebuah gua disana. Tampak ada bekas-bekas orang menginap di gua ini. Sebuah ide gila lalu muncul di kepala saya.

“Bagaimana kalau saya malam ini menginap disini? “

Saya lalu membayangkan asyiknya pemandangan tebing ini di waktu malam. Membayangkan mengambil foto startrails diatas tebing-tebing ini. hmm, menyenangkan..

Seperti yang saya bilang tadi, itu adalah satu ide gila. Saya tak membawa perlengkapan kemping apapun dari indonesia. Yang ada hanyalah headlamp dan satu buah selimut darurat buatan cina yang tampak tak berguna. Jadi saya kubur ide itu dan mulai turun tebing sebelum matahari terbenam, berharap masih ada waktu untuk mencari penginapan.

Ternyata nasib berpihak pada si tebing. Setelah dua jam berjalan kaki mencari penginapan, saya tidak menemukan tanda-tanda penginapan. Dengan rasa lelah plus sedikit rasa senang-ingin-berpetualang, saya lalu berjalan ke arah tebing tersebut.

Jam 10 malam, dalam gelap dan dibantu cahaya headlamp, ternyata tidaklah mudah menemukan jalan setapak yang saya gunakan sore tadi. Saya malah berkali-kali menemukan dinding vertikal di depan saya. Tak ingin berputar-putar, saya lalu memutuskan untuk memanjat. Yah, bukan murni memanjat secara wall-climbing, hanya wall scrambling (1).

Dengan membawa 2 tas dengan total berat 17 kg, saya harus berulang kali naik-turun untuk membawa barang-barang saya ke tingkat yang lebih tinggi. Bahkan ada satu bagian dimana saya harus melakukan stemming yaitu memanjat satu celah, dimana tangan dan kaki kanan saya menumpu pada dinding kanan, sementara tangan dan kaki kiri menumpu pada dinding kiri. Tapi celah itu nggak tinggi kok, tingginya hanya sekitar 2.5 meter, sementara lebarnya sekitar 70 cm.

Akhirnya saya mencapai satu teras puncak yang memiliki pemandangan bagus dan nyaman untuk beristirahat. Saya lalu mengeluarkan kamera dan mulai mengambil foto tebing itu di malam hari. Sayangnya langit terlalu berawan untuk mengambil foto startrail (2) .

Tiba-tiba saya melihat lampu senter handphone dibawah sana. Lampu putih ini terlihat terang dan mencari jalan keatas, ke tempat saya berada! 20 meter diatasnya. Pikiran saya lalu bertanya-tanya apa yang saya harus lakukan kalau ia mencapai tempat saya? Mengajaknya bicara? Nggak deh, saya nggak bisa Bahasa Cina. Gimana kalo dia petugas keamanan? Ups, mampus! Saya nggak tahu apa aturan menginap di alam terbuka di Cina.

“Coba bayangkan, apa yang akan dikatakan petugas keamanan cina tentang satu orang asing, menginap diatas tebing terbuka tanpa tenda, kantung tidur tanpa persiapan apapun?”

Saya nggak bisa berpikir terlalu lama, orang itu akan mendekat. Secara reflek saya lalu menyalakan lampu headlamp saya dan menyorot lampu hp itu. Berharap kalau orang yang membawa hp itu hanyalah orang iseng belaka seperti saya yang ingin naik keatas tebing malam-malam. Berhubung cahaya lampu headlamp saya lebih besar dan lebih terang. Saya berharap dia mengira saya petugas keamanan jadinya dia takut naik keatas tebing.

Berhasil! Lampu itu berhenti, lalu akhirnya berbalik dan berjalan ke bawah. Saya bisa bernafas lega, malam itu saya aman menginap diatas tebing (walau hanya tertidur ayam-ayam saja, kuatir ada petugas keamanan yang naik ketempat saya) dan agak kedinginan (selimut darurat buatan cina hanya setengah berguna, karena ternyata panjangnya hanya setengah saja, hahaha). Tak ada api unggun malam itu, karena saya nggak mau menarik perhatian petugas keamanan. Untungnya saya terlindung dari angin malam. Kebetulan saat itu malam musim panas, dimana suhu malam masih berkisar 26-29 derajat celsius. Sehingga saya terhindar dari kemungkinan hipotermia (kedinginan).

Pengalaman itu benar-benar mengesankan; Sendirian menaiki tebing di malam hari dan menginap diatas tebing di satu negara asing yang saya nggak bisa bahasanya. Menakut-nakuti dan mengusir orang iseng dari teritori tebing saya plus saya juga mendapat foto yang luar biasa! Benar-benar pengalaman yang mengesankan!

Tapi jangan ASAL TIRU sob! Hal ini bisa berbahaya dan gak direkomendasikan! Membutuhkan kebugaran, kesehatan, sedikit kegilaan dan nasib baik yang luar biasa. Saya sendiri juga heran loh, kok nggak ada insiden apa-apa di malam itu.

Mungkin saya sedang beruntung malam itu.

1) Scranmbling = Kegiatan antara wall-climbing dan hiking. Kegiatan menaiki tebing yang membutuhkan bantuan kedua tangan untuk naik keatas. 2) Startrails       = Foto long-exposure garis edar bintang di angkasa.
Written & documented by: Icak (@darmastyo)
Edited by: @hanie_20

Full article →

Sungai Mekong, Saya Datang!

Pada bulan Juli tahun 2014, saya mendapatkan kesempatan untuk berpindah negara dari Thailand ke Laos melalui Sungai Mekong. Sungai Mekong inilah yang memisahkan antara Thailand dan Laos. Saya berpindah negara melalui sebuah jembatan yang menghubungkan sisi Thailand dan sisi Laos. Jembatan ini menghubungkan antara kota Chiang Kong, Thailand dan kota Houay xiay, Laos. Setelah mencapai Houxiay, barulah perjalanan sebenarnya dimulai.

Dari Houay Xiay, untuk mencapai tujuan saya ke kota Tua Luang Prabang membutuhkan waktu 2 hari perjalanan dengan slow boat (semalam menginap di Pagbeng), atau 4 jam perjalanan dengan speed boat, atau entah berapa jam perjalanan melalui jalan darat. Saya lalu memilih slow boat.

Perjalanan hari pertama berlalu menyenangkan, banyak sekali pemandangan menarik selama perjalanan. Saya bisa melihat perbukitan Laos, kampung-kampung dimana para penduduknya menunggu kedatangan perahu kami untuk mengirimkan paket, surat atau menjemput sanak saudara. Kadang saya bahkan bisa melihat gajah peliharaan yang dimandikan penjaganya.

Namun, ada alasan kenapa perahu ini dinamakan slow boat. Perahu dengan kapasitas 60 orang ini memang berlayar sangat-sangat lambat. Membutuhkan kegiatan lain untuk mengisi waktu dan menghindari kebosanan. Beruntung saya bepergian dengan kamera saya ;)

Written & documented by: Icak (@darmastyo)
Edited by: @hanie_20

Full article →

Pacu Jawi, Bukan Sekedar Balapan Sapi

Lumpur, Adrenalin, Balapan dan Sapi Jantan!

Pacu jawi adalah gabungan dari keempat hal itu Sob. Sebuah lomba balapan sapi yang menakjubkan, dimana sang joki berdiri dibelakang dua ekor sapi yang berlari kencang. Sang Joki bertahan, berdiri dan memacu kedua sapinya secepat dan selurus mungkin, diatas sawah yang baru saja dipanen.

Jika Sob traveling ke Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, Sob dapat menyaksikan lomba Pacu Jawi ini. Pacu Jawi diadakan bergiliran di empat kecamatan, yaitu Kecamatan Pariangan, Kecamatan Rambatan, Kecamatan Lima Kaum dan Kecamatan Tarab.

Setiap joki mengendarai dua ekor sapi yang masing-masing diapit oleh alat pembajak sawah. Joki itu lalu berdiri di ujung pembajak dan berusaha memacu sapi sekencang-kencangnya. Tidak mudah untuk berdiri di atas alat pembajak. Sapi yang berlari kadang-kadang membuat jokinya jatuh, terpental, bahkan berpindah sawah. Tak heran jika  banyak joki yang  tiba-tiba terduduk di lumpur sambil  meludah-ludah, membersihkan sisa-sisa lumpur yang masuk ke mulutnya.

Berikut ini ialah  beberapa foto Pacu Jawi yang berhasil saya abadikan, enjoy Sob!

Written by: Icak (ig: @darmastyo)
Edited by: @hanie_20

Full article →