Way Kambas, Menuju Tanah Para Gajah

Setelah melakukan perjalanan dari kota Bandar Lampung menuju Tridatu bersama 337 liter bensin dan 32 orang, akhirnya sampailah saya pada Simpang Batu Gajah. Di Simpang Batu Gajah atau Simpang Tridatu ini terdapat pintu gerbang Taman Nasional Way Kambas (TNWK)  yang dihiasi patung gajah. Sayangnya salah satu gerbang ini miring karena pernah dihantam truk.

[caption id="attachment_3473" align="aligncenter" width="765"]Gerbang Taman Nasional Way Kambas Gerbang Taman Nasional Way Kambas[/caption]

Di gerbang inilah saya harus melanjutkan perjalanan berjalan kaki sejauh 7 km.  Iya, 7 Kilometer. Rata-rata manusia normal berjalan kaki sekitar 4,5 – 5 km per jam. Saya membawa tas dengan berat 18 kg, berarti kecepatan saya akan sedikit berkurang. Mungkin saya akan sampai di TNWK satu setengah jam kemudian. Saat itu jarum pendek jam menunjukkan angka 3, berarti saya sampai pada pukul setengah lima sore –itu kalau semua berjalan lancar. Kalau tidak lancar, saya mungkin harus berjalan dalam gelap di tengah hutan. “Menyenangkan”.

Yak! waktunya menggunakan kaki…

Tiba-tiba seseorang memanggil saya. 5 menit kemudian saya melaju ke TNWK naik ojeg seharga 70ribu rupiah, termasuk tiket masuk =))

Dari situs-situs perjalanan yang saya baca, saya akan menemui kantor kawasan konservasi TNWK di gerbang masuk untuk meminta Simaksi (Surat Ijin Masuk Area Konservasi) ke dalam lokasi TNWK. Memasuki kawasan TNWK, saya sama sekali tidak melihat ada bangunan apa-apa. Tidak ada warung, tidak ada rumah, apalagi kantor TNWK, tidak ada sama sekali. Sampai akhirnya ada satu kompleks bangunan tempat saya harus turun.

Sesampainya di lokasi TNWK, bapak tukang ojeg yang saya tumpangi mengingatkan saya untuk bilang bahwa saya adalah saudaranya bila ada yang tanya. Kemudian Ia meninggalkan saya yang kebingungan dan baru sadar kalau saya masuk ke TNWK sebagai pendatang gelap.

Saya lalu berkeliling di area ini dan bertemu bapak-bapak Jagawana. Ternyata pada pukul 16.00 ini sudah terlalu terlambat untuk kembali ke Tridatu lalu ke Bandar Lampung. Tak ada kendaraan pulang keluar TNWK. Saat itu juga tidak ada fasilitas penginapan di TNWK yang dapat saya temui. Untungnya, bapak-bapak yang baik ini mengijinkan saya untuk menginap bersama mereka di bangunan jaga mereka asalkan saya membawa makanan saya sendiri. Beruntung ada warung nasi yang masih buka sehingga saya bisa membeli nasi bungkus dan menginap disana.

Jadilah malam itu  saya menginap bersama-sama para Jagawana. Memperhatikan kandang gajah, satu lapangan besar tempat para gajah-gajah yang jinak beristirahat.   Saya juga sempat bertukar cerita dan bercanda bersama para Jagawana yang ada disana.

Saat itu ada sekitar 77 ekor gajah didalam TNWK. Pada siang hari ketika banyak pengunjung, biasanya  beberapa dari gajah ini dapat ditunggangi. Bahkan dahulu ada atraksi permainan bola yang dilakukan oleh para gajah ini. Saat itu, gajah-gajah ini juga digunakan untuk membantu petani disana mengendalikan dan mengusir gajah-gajah liar di kawasan itu.

BLAAAR!! Tiba-tiba terdengar beberapa suara letusan di kejauhan. Saya lalu memandangi bapak Jagawana dan bertanya-tanya. Ternyata itu adalah suara kembang api para petani untuk mengusir gajah-gajah liar dari kebunnya.

Selain dari suara letusan kembang api, suasana malam itu terdengar sepi.  Suara serangga di malam hari membuat saya mengantuk, bahkan suara gajah yang kadang terdengar tak berhasil membuat saya terbangun. Malam itu saya lalui dengan tidur nyenyak di gardu pengawasan gajah TNWK.

Keesokan paginya, gajah-gajah itu bangun lebih pagi daripada saya.  Saya lalu bangun dan kelaparan sedangkan toko-toko di sekitar lokasi belum ada yang buka. Dalam keadaan setengah lapar, saya lalu berjalan-jalan di sekitar lokasi kompleks TNWK dan melihat para gajah-gajah dimandikan oleh pawangnya.

Salah seorang pawang lalu melihat saya dan mengajak saya ngobrol. Tak lama kemudian pawang yang baik ini bahkan mengajak saya ikut naik gajah dan mengantar gajah-gajah ini ke padang rumput, tempat mereka akan dilepas sementara.

Tentu saja saya mengiyakan tawaran tersebut. Seorang pawang lalu membantu saya naik seekor gajah. Ternyata tak semudah itu menunggangi satu ekor gajah jantan besar tanpa menggunakan pelana.

Singkat cerita, pagi itu saya lalui tanpa sarapan namun saya menemani beberapa ekor gajah sarapan.

Naik Gajah.

Tanpa pelana.

Gratis.

Menakjubkan bukan?

Total ada 5 gajah yang dibawa ke lokasi padang rumput untuk sarapan. Ditengah kawanan ini, saya melihat satu gajah kecil yang selalu mengikuti induknya kemana-mana. Lucu sekali. Mahluk yang masih sebesar sapi ini tampak ingin berjalan-jalan melihat dunia sekitar, tapi masih terlalu takut untuk meninggalkan induknya. Ia berjalan-jalan disekitar induknya,  sementara si induk  sibuk memamah biak.

[caption id="attachment_3899" align="aligncenter" width="683"]Si Bayi gajah kecil yang baru berusia beberapa bulan Si Bayi gajah kecil yang baru berusia beberapa bulan[/caption]
 

Sayangnya pagi itu saya harus cepat-cepat meninggalkan TNWK demi mengejar kendaraan pulang ke Bandar Lampung. Untungnya, saya cepat menemukan tukang ojeg yang setuju mengantar saya ke Simpang Tridatu.

Kali ini saya pulang melewati jalur utama daaan…. Kantor resmi TNWK.

Dengan sedikit perasaan malu dan bersalah, jadilah saya keluar dari kawasan TNWK  sebagai pengunjung gratisan… =D

Punten pisan bapak-bapak dan ibu-ibu Taman Nasional Way Kambas. Saya gak sengaja masuk sembarangan. Sumpah!

Written by: Icak (@darmastyo)
Edited by: @hanie_20

Leave a comment

Please note: comments must be approved before they are published.